Monday, October 24, 2016

Menikah Itu

Menikah itu,.. Bukan cepet-cepetan.!
Menikah itu,., Bukan persaingan., siapa yang duluan, siapa yang terakhir.!

Kalaupun ada persaingan dalam hal pernikahan, adalah bukan siapa yang paling cepat menikah, tapi siapa yang paling lama mampu mempertahankan pernikahanya.  #katasokbijakdariABDUR

me and her


Menikah itu tentang perkenalan.. dalam pernikahan, kita mulai dengan memperkenalkan diri, diri kita masing-masing. Aku tuh gini loh,.. aku tuh orangnya begini, aku tuh orangnya sukanya gini, aku tuh orangnya gak suka ini itu,ini itu dan ini itu. Kalau kamu gimanaaa ? bahasa perkenalan dalam sebuah pernikahan tidak selalu verbal dan langsung, kadang ada hal-hal yang cara memperkenalkanya secara tidak langsung, melalui proses dulu, tidak jarang proses itu berupa konflik terlebih dahulu, iya.. konflik.!  Dan  dari proses itu kita di “paksa” belajar untuk mengenal mengenai hal-hal seperti sifat, karakter, kebiasaan, apa yang di sebut kelebihann dan atau kekurangan dari partner kita. Semakin terbuka dan semakin lancar masing-masing pihak mengkomunikasikan tentang dirinya kepada pihak lainya, akan berpengaruh pada semakin baiknya dan semakin eratnya hubungan yang bisa terjalin antar dua pihak yang sudah sepakat untuk menikah.

Menikah itu tentang komunikasi. Bagian penting lainya tentang pernikahan adalah komunikasi. Iya.., komunikasi.! Kemunikasi dua arah bukan hanya searah. Komunikasi yang masing-masingnya mampu dan mau mendengar dan juga mampu dan mau mengungkapkan. Komunikasi yang di bangun di atas pakem saling menghargai satu sama lain, atas dasar peran , hak dan kewajiban dan juga pakem tinggi sama rendah. Sebagaimana yang sudah di jelaskan dalam bagian atas, model saluran komunikasi yang di adopsi oleh dua orang yang sepakat untuk menikah sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses perkenalan, terwujudnya kesepakatan-kesepakataran dan juga tingkat keharmonisan, ke-erat-an hubungan yang terjalin antara kedua pihak itu, kemampuan menghindari sering munculnya konflik dan juga kecepatan dalam proses menyelesaikan konflik yang adakalanya mungkin terjadi.

Menikah itu tentang rekonsiliasi. Rekonsiliasi biasanya dilakukan ketika dua pihak tengah menghadapi konflik atau kedua pihak meghadapi kenyataan adanya perbedaan-perbedaan. Yang mana pasti dan pastinya, dua orang yang sepakat untuk menikah memiliki banyak peebedaan, dalam segala aspek, sifat, karakter, kebiasaan, latar belakang pendidikan, latar belakang keluarga, prinsip-prinsip, nilai-nilai hidup yang di pegang, cara pandang hidup, sikap mental, latar belakang ekonomi, tingkat ke-iman-an, tujuan hidup, pekerjaan, pergaulan dan lain sebagainya. Adalah musykil seorang untuk menemukan apa yang ada dalam dirinya semuanya sama ada pada diri orang lain, pastilah ada dan banyak perbedaan yang ada diantara keduanya,... dan oleh karenanya, salah satu pakem dalam mencari pasangan yang paling tepat adalah bukan pada banyak sedikitnya persamaan atau perbedaan tetapi yang paling banyak dan tinggi compatibility-nya, yang paling bisa membawa kenyamanan dan ketentraman diantara keduanya, bukan hanya kesenangan. Rekonsiliasi pernikahan terjadi setelah adanya proses perkenalan dalam pernikahan. Proses rekonsiliasi dilakukan setelah masing-masing pihak saling mengenal satu sama lain, tentu saja proses perkenalan dan rekonsiliasi tidak bersifar rigid atau kaku, tetepi continue, artinya keduanya bisa terus dan sama sama berlangsung tetapi dalam hal-hal yang berbeda, misal.., kita mengenal bahwa salah satu pihak kita suka kentut sesukanya.., haha,.. terus terjadilah proses rekonsiliasi.. disaat bersamaan kita menemukan (mengenal ) pihak yang lain gak suka mandi alias jarang mandi,.. dan seterusnya.., proses perkenalan dan rekonsiliasi terjadi bisa bersemaan tapi dalam hal yang berbeda. Rekonsiliasi dalam pernikahan itu tentang menerima apa adanya fakta tengang perbedaan-perbedaan, yang kemudian ditindaklanjuti, apakah bisa di terima atau tidak, jika di terima seperti apa dan jika tidak harus seperti apa, diperbaiki ? di hilangkan ? di rubah ? di selaraskan ?.

Menikah ini tentang konsolidasi, tentang kesepakatan-kesepakatan. Setalah proses perkenalan dan rekonsiliasi, dalam pernikahan ada yang namanya proses konsolidasi. Yaitu membuat kesepakatan-kesepakatan mengenai berbagai macam hal, baik yang pokok atau yang furu’ alias cabang alias printilan. Seperti Tujuan hidup bersama, Values yang jadi pegangan, Peran dan posisi atau kedudukan, Hak dan kewajiban, dan lain sebagainya. Tujuan dari prose konsolidasi adalah untuk memperteguh, memperkuat hubungan dan sekaligus menjadi Pedoman Tata Cara Bekeluarga yang Baik. Hahah.. itu istilahku sendiri seh.., terinspirasi dari istrilah GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara) saya membuat apa yang saya sebut GBHK (Garis-Garis Besar Haluan Keluarga).  Dari sini bisa dilihat bahwa dalam berkeluarga, kesepakatan-kesepakatan itu sifatnya custom, kita mimiliki pedoman secara umum, dalam Islam sudah sangat jelas, tetapi dalam praktek nya , masing-masing keluarga harus dan perlu meracik dan meramu formula keluarganya sendiri-sendiri. Sebagaimana proses perkenalan dan rekonsiliasi, proses konsolidasi juga tidak bersifat rigid, tetapi mengalir dan continue.

Pernikahan itu di bangun dan membangun, di bangun atas nama cinta dan membangun cinta , bukan Jatuh cinta, #aaiiiiih.. Kalau ini agak ngawur seh kelihatanya, hahaha.., ya,.. istilah membangun rasa, membangun cinta ini lebih suka saya gunakan selama 4-5 tahun ini daripada istilah jatuh cinta. Filosofinya, adalah membangun itu memerlukan proses, ada fondasi dan membangun itu tumbuh, keatas, membangun itu ada daya upaya. Sementara jatuh cinta itu, jatuh, kebawah, terperosok , tidak ada daya , terperdaya, dan lemah. Hahahh.. tentu saja itu tidak sepenuhnya benar, yang mau setuju monggo, yang nggak juga nggak apa-apa, wong itu Cuma istilah buatanku sendiri kok.hehe..

Jadi., kesimpulanya, APA ITU PERNIKAHAN ???
Jawabanya, Pernikahan adalah ITU.! :D