Skip to main content

Bersabar & Bersyukur




Suatu hari di pertengahan tahun 2006, aku merasa ada hal yang aneh,.., apa itu..!?? , aku sendiri ga tau, yang jelas selama satu hari itu aku merasa tidak nyaman, gundah, resah..atau apalah istilahnya, tapi mungkin lebih tepatnya seeh.."Aku lgi Galau.." :D.  Aku berpikir apa yang kurang dalam hidupku saat itu.. (banyak kaleee..),aku terus berpikir mencari tahu apa sebenarnya penyebabnya sampai-sampai aku jadi ngrasa ga nyaman kaya gitu.

Setelah berpikir lama , akhirnya hari itu aku memutuskan untuk keluar dari rumah kontrakan (bukan pindah yooo..) dengan hanya membawa tas dan uang seadanya. Saat itu kontrakanku ada di kelurahan kukusan di bagian barat UI Depok. Aku memutuskan berjalan keluar, ngga tau tujuanya kemana, hanya mengikuti langkah kaki..pokoknya kemana aja dah..,ngikutin kemana kaki melangkah sampai kaki ini lelah dan berhenti. Dari dulu aku memang tipe orang yang ketika menghadapi masalah, cenderung lebih suka menyendiri, mencari tahu sendiri bagaimana mendapatkan solusinya, dan jarang sekali mau berbagi masalah dengan orang lain.  

Hari itu aku berangkat sekitar jam 4 sore, aku berjalan ke arah barat, kemudian ke utara dan terus sampai ke jakarta. Saat maghrib tiba, ngga kerasa aku dah sampai di jalan Ampera Raya, bagian utara kebun raya Ragunan. Disana aku berhenti dan mencari sebuah masjid untuk sholat sampai akhirnya aku memutuskan untuk bermalam.  

Selama dalam perjalanan, itu aku memikirkan banyak hal, aku mulai berpikir dari sebenarnya aku lagi ngapain seh disini, di jakarta, apa yang sedang aku cari, apa sih yang sedang ingin,akan, mau aku capai. Kapan keinginan-keinginan itu bisa aku capai, apa bener itu adalah hal yang aku inginkan, dan apa sekarang ini aku udah bener berada di jalan yang sesuai untuk dapat mencapai apa yang aku inginkan. Aku terus mencerna..berdialog, berdebat dan melakukan tanya jawab dengan diriku sendiri.. 

Seringkali aku dalam bertanya, menjawab, dan berargumentasi mendukung fikiranku, logika cara berfikirku.. dan seringkali aku mendukung hatiku, apa yang aku rasa. Sampai-samapi aku tidak terasa sudah berjalan jauh dan kakiku secara lahiriah mulai merasakan capek dan pegal. Didalam masjid pun aku terus berpikir. Melakukan dialog dengan diriku sendiri.  

Pagi harinya setelah sholat subuh aku meneruskan perjalanan, dengan jalan kaki tentunya menuju ke arah utara. Sampai tidak terasa aku tiba di terminal Blok M. Letihnya kaki karena berjalan sudah terasa, sehingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dari perjalanan dan pulang. Saat pulang aku memutuskan untuk naik metromini karena kakiku sudah sangat capek (kasihaan..)!. Tapi yang aku rasakan di pagi hari itu adalah adanya perasaan yang lebih tenang, aku mencoba mendefinisikan berbagai hal yang sudah aku alami, aku hadapi sebelumnya, dan banyak yang aku temui di jalan..bahwa pada dasarnya, untuk dapat merasakan bahagianya hidup.. dengan melihat sudut pandang sebagai seorang muslim.. adalah seperti melihat dua sisi keping mata uang, satu sisi berisi nasihat.. Bersyukurlah, dan satu sisi lagi berisi nasehat Bersabarlah.. 

Apapun posisi kita, strata ekonomi,sosial, dlsb.., dua hal tersbut tetap dapat menjadi kompas yang relevan untuk mengukur dan menentukan bagaimana kita harus bersikap. Ketika hidup kita berada di roda bagian atas (kaum The HaveUpper/Top up wheel of life) kita harus bersyukur dan bersabar. Bersyukur karena kita diberikan banyak kemudahan harta dan lain-lainya relatif dibanding yang lain - kaum the poor. Bersabar karena sadar bahwa itu adalah ujian bagaimana kita dapat melakukan self control sehingga tidak menjadi manusia yang takabur, lali dan berlebih-lebihan. 

Dan ketika kita berada Top Down Wheel of Life, kita juga harus bersyukur karena bisa jadi masih ada orang yang lebih susah dari kita, karena dengan segala kesusahan itu ternyata tidak menyurutkan iman kita, dlsb, dan juga harus Bersabar..karena pada dasarnya itu adalah ujian... dan tujuan dari ujian adalah untuk Upgrade Quality.. meningkatkan kualitas seseorang.. meningkatkan Nilai Tambah seseorang di mata Alloh SWT.
Bersyukur dan Bersabar.. mudah di ucapkan.., tapi.. :) 
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…