Monday, January 06, 2014

Pendidikan, Siapa suruh belajar 6-3-3-4 tahun ?




Pagi itu, di bulan agustus 29-2013, adalah pengumuman penerimaan calon santriwati gontor setelah melewati masa ujian dan libur di minggu2 sebelumnya. Tidak seperti biasanya atau tidak seperti pada umumnya, acara pengumuman di salah satu pesantren tersohor di negeri ini bahkan di beberapa negara di luar negeri di adakan  secara sakral, melalui acara ceremoni yang dipersiapkan oleh panitia pondok. Pengumuman dengan cara seperti ini masih tergolong klasik, orang tua atau wali dari calon santri harus hadir untuk mendengarkan pengumuman secara langsung yang dibacakan secara lisan oleh para ustadz secara bergantian dari atas panggung. Tidak umum karena di era yang sudah modern seperti ini dimana proses transfer informasi bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai tools teknologi, terutama teknologi berbasis internet. Kalau mau di pikir secara praktis, tidakkah akan lebih mudah jika pengumuman itu dilakukan melalui media internet, website, sehingga para calon santri yang tidak di terima tidak perlu riweh, tidak perlu mengeluarkan biaya yang tidak perlu seperti biaya transportasi yang pada akhirnya “sia-sia”. 

Okeee.., tampak merepotkan memang, tapi itulah yang masih terjadi di Gontor sampai tahun ajaran 2013 yang lalu, mereka sendiri sebenarnya menyadari, tapi memang memiliki alasan tersendiri kenapa model pengumuman yang dipakai adalah seperti itu. Tapi memang bagian yang serunya adalah sisi dramatis yang bisa tampil melalui acara itu, ketika nama calon santri satu-persatu disebutkan, maka perasaan berdebar, cemas, harap, khawatir tiba-tiba saja muncul pada diri semua calon dan wali santri. Bukan apa2, tetapi karena pondok ini adalah satu diantara pondok yang memang tidak memberikan jaminan apapun pada anda (siapa anda) untuk masuk dan diterima, tidak peduli anda adalah alumni, kyai, ustadz yang mengajar disitu, kolega, pendonor, pejabat,jenderal, bupati, menteri,bahkan presiden, tidak ada jaminan bahwa atas dasar itu anak atau keluarga anda yang ingin masuk bisa terjamin masuk. 

Sebelum acara pengumuman dimulai, biasalah…, ada sambutan terlebih dahulu. Salah satu sambutan yang disampaikan dalam acara ini adalah oleh salah satu pemimpin dari pondok ini, yaitu ustadz KH.Hasan Abdullah Sahal. Dan inti dari tulisan ini sebenarnya adalah ingin membahas tema dan isi dari pesan yang disampaikan oleh bapak kyai ini. 

Hal pertama yang disampaikan adalah bahwa orang tua calon santri harus NGERTI, :D , ngerti disini dalam artian bahwa tugas dan tanggung jawab dalam mendidik anak adalah bukan HANYA Gontor tetapi tanggung jawab kita semua (kurang lebih seperti itu), sebenarnya kalau mau dipikir statement ini muncul sebagai usaha untuk meminimalisir potensi “protes dan kekecawaan” dari santri dan wali santri yang notabene sudah berusaha banyak dan “habis-habisan” biaya, waktu dan tenaga dalam mengupayakan agar anaknya bisa masuk ke pondok ini. Tapi pun memang ada benarnya, bahwa tugas mendidik adalah bukan hanya tanggung jawab gontor, artinya kalau tidak masuk gontor maka masih ada tempat lain yang juga bagus sebagai wadah untuk memberikan pendidikan, begitulah kira-kira, makanya disitu dilarang dan dikatakan tabu kalau gontor dibanding-bandingkan dengan pesantren/tempat pendidikan lainya, kenapa karena tidak fair, bahwa memang masing-masingnya pasti memiliki kelebihan dan keuranganya sendiri. 

Hal yang kedua adalah bahwa lamanya proses pendidikan. Pesan yang disampaikan disini adalah bahwa lamanya poendidikan di gontor adalah tidak ditentukan harus 3 tahun (setara SMP), 3 tahun (setara SMA) dan 4 tahun (setara Kuliah), tidak.. tidak demikian. Penekananya adalah SIAPA YANG MENYURUH BAHWA LAMANYA PENDIDIKAN KITA HARUS SEKIAN TAHUN , SIAPA ????
Jawabanya adalah sistem yang telah dibuat dan sedang/masih diadopsi oleh dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini.  Statement itu awalnya terdengar aneh di telinga, bahkan, ya.. di telingaku. Kenyataanya dalam hal lamanya pendidikan, yang sudah menjadi common sense dikepalaku dan masyarakat umum ya seperti itulah : 6 tahun SD, 3 tahun SMP atau setara, 3 tahun SMA atau setara dan 4 tahun kulian setara S1. Kalau misalnya melenceng dari pakem itu terutama untuk tataran SD-SMA, maka yang terjadi adalah judgement dari masyarakat bahwa orang tersebut : “bodoh/tertinggal” karena jika tidak kalau tidak mengikuti pakem tersebut berarti anak itu ada masanya tidak naik kelas alias tinggal kelas, image yang terbangun dan berkembang di masyarakat entah dari kapan dan siapa yang memulainya adalah anak itu payah/bodoh/tertinggal. Sungguh konotasi yang sangat tidak fair dan tidak menyenangkan, kecuali kalau tinggal kelasnya itu disebabkan oleh alasan-alasan yang mafhum seperti sakit yang panjang sehingga harus berobat rawat yang cukup lama misalnya. Tidak fair karena hukum tak tertulis dari sudut pandang seperti itu menyatakkan bahwa dalam proses belajar tidak dikenal yang namanya gagal, tidak ada toleransi atas kata gagal, belajar identik dengan harus sukses/ harus lulus sekali tancap gas, apapun  dan bagaimanapun caranya, gagal adalah tabu, tidak naik adalah gagal, tidak naik adalah tabu, buat apa belajar kalau tidak naik, buat apa belajar kalau tetep saja “bodoh” karena anak yang tidak naik kelas adalah gagal dan gagal adalah “bodoh”. Ya.. cara pandang seperti itu sungguh sangat tidak fair.., tidak fair karena sama sekali tidak mempertimbangkan dan memperhitungkan usaha dari masing masing pelaku (siswa), tidak mempertimbangkan kemampuan atau daya tangkap masing-masing siswa dan tidak mempertimbangkan apakah metode pembelajaran yang digunakan telah tepat dan telah mampu mengakomodasi masing-masing siswa.
Tidak menyenangkan, ya sangat jelas tidak menyenangkan bagi anak yang kebetulan mengalami nasib itu dan harus di cap “bodoh / tertinggal”.  

Kenyataanya sebenarnya tidak ada pakem bahwa belajar harus sekian tahun – sekian tahun, bahkan yang namanya belajar kalau kita mengikuti petunjuk rasul adalah : seumur hidup, dari buaian sampai liang lahat. Artinya tidak ada kata terlambat dan selesai dalam belajar. Tapi kan itu berkait dengan belajar dalam arti umum, sedangkan ini kan belajar dalam arti formal, pendidikan formal ?? bukan begitu sanggahanya ?.. mungkin itu terlihat seolah-olah benar, tapi sungguh sangat tidak benar, so what ?? emangnya atas dasar apa kamu membedakan belajar dalam arti formal dan ngga formal, bukankan pokok belajar adalah proses transformasi dari tidak atau belum mengetahui atau belum bisa sesuatu, belum memahami sesuatu menjadi tahu, menjadi paham, menjadi bisa ? formal atau tidak adalah dikotomi yang digunakan untuk membedakan melalui institusi apa orang tersebut mendapat pengetahuan, pemahaman, kebisaan itu. pada dasarnya sama saja. So what ?? apakah anda jika belajar bahasa inggris misalnya, yang satu melalui lembaga tertentu (formal) 3 tahun baru bisa, yang satunya belajar sendiri (otodidak/tidak formal) 1 bulan bisa, fasyeh dan lancar ? mana yang lebih berguna, mana yangf lebih bermanfaat ? sama saja, dua-duanya bisa, hanya waktu prosesnya yang berbeda. 

Jadi pesan dari tulisan ini adalah bahwa dalam proses belajar khususnya berkaitan dengan lamanya waktu, tidak ada pakem  harus 3 tahun, 4 tahun, 6 tahun, dsb.. yang ada adalah belajar itu seumur hidup, makin lama belajar bukankah makin lebih baik?. Dan terkait dengan angka2 tersebut, adalah lebih baik jika kita yang sudah memiliki wawasan belajar tidak lagi munJudge atas dasar angka-angka itu bahwa “seseorang dalam proses belajar jika ingin dianggap normal harus mengikuti pakem angka-angka tersebut, dan jika tidak mengikuti pakem tersebut dianggap ngga “normal” alias bodoh !”. perlu dicatat, bahwa tidak mengikuti angka tersebut bukan melulu dalam arti lebih lama lebih baik, tetapi bisa juga dalam arti jika proses penguasaanya atas sesuatu yang dipelajari dapat dilakukan lebih cepat adalah lebih baik.. kenapa ? karena waktu2 lainya bisa digunakan untuk menguasai/mempelajari ilmu2 yang lainya. :)

Post a Comment