Skip to main content

Tentang Malu


Malu...

Dari Abu Mas’ud Uqbah Bin Amr Al Anshari Al Badri ra., dia berkata, “Rasululloh saw bersabda, “Sesungguhnya sebuah ungkapan yang telah dikenal banyak orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah : ‘jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu.” (HR.Bukhari)

Jadi, tulisan kali ini ceritanya aku mau menulis tentang satu hal, tentang satu rasa, yaitu : Malu.
Kenapa aku menulis ini ??, entahlah.., sebenarnya tulisan ini adalah tulisan yang sudah lama aku buat dan tersimpan di file komputerku. Mungkin karena pada waktu itu ada sebab tertentu mengapa aku nulis pokok tema ini.

Malu.. apa itu malu ?
Definisi malu sangat beragam, tergantung dari sudut mana kita  mengartikanya, tapi secara umum , malu adalah : sebuah sifat (perangai), rasa keengganan melakukan sesuatu karena sebab-musabab tertentu. Nah.., kalo bicara sebab-musabab.., ragamnya bisa sangat banyak tuh.., dari satu orang ke orang lain dan jugaa... tingkatan atau levelnya antara satu orang dengan orang lain.

Menurut hasil renungan yang aku ketahui saat ini, sebab malu diantaranya :
Malu karena Allah
Malu karena kebanggaan (dignity), harga diri (perbuatan)_contoh orang jepang
Malu karena  takut dianggap “sesuatu” oleh orang lain, bisa keluarga, teman, masyarakat.

Pembahasan malu sangat luas, tapi kali ini mungkin aku lebih mau menekankan tentang malu yang ngga pada tempatnya alias Malu vs PD. Jadi peanya lebih pada : “malu lah pada tempatnya”.. kira-kira seperti itu, hehe..

Coba akita bayangkan, dari sejak SD sampai Kuliah, bahkan mungkin sampai dunia kerja, fenomena malu tidak pada tempatnya ini terus saja ada, bahkan seringkali kasusunya untuk seorang, cenderung terus dilakukan jika tidak ada perubahan. Misalnya di kelas, anak-anak tidak berani tampil, mengacungkan tangan, bertanya atau berpendapat, bukan karena tidak bisa, tapi karena merasa malu, malu karena apa malu karena takut salah, dan kemudian takut dianggap ini itu, dianggap ke-PD-an, misalnya dan lain sebagainya. Buat saya yang entah karena sebab apa, dari dulu sepertinya cukup kritis bahkan cenderung vokal, agak merasa aneh, meskipun saya sendiri pada waktu-waktu tertentu pernah mengalami hal-hal seperti itu. Tapi belakangan setelah saya terbiasa, dan berpikir, malu tidak pada tempatnya itu sangat merugikan, dalam banyak hal, menutup banyak sekali kemungkinan jawaban-jawaban yang sebenarnya ingin kita ketahui. Misal.. kita lagi jalan, dan tersesat, kita ngga berani bertanya alias malu bertanya.., maka jadinya semakain tersesatlah kita,.., kan, bikin rugi diri sendiri !??

Aku berpikir-berpikir dan terus aku renungkan, sebenarnya seandainya aku melakukan sesuatu yang bilamana sesuatu itu bukanlah hal yang salah atau memalukan secara hukum dan norma, apa sih risiko terbesarnya ? terbesit dipikiranku daftar risiko yang aku anggap , ah.. paling....
Resikonya Paling mentok :
-          Dimarahin, diomelin
-          Di pecat
-          Tidak dianggap
-          Di anggap (ini juga resiko loh yaa J )
-          Mati
Di usir
-          Di tolak
-          Di peringatkan
-          Di ancam
-          Di tampar
-          Di ejek
-          Di hina
-          Di caci maki
-          Di rendahkan
-          Di kibuli, Di bohongi
-          Di Bully
-          Dll..
Aku coba sebutkan macam-macam resikonya yang aplikasinya tentu saja juga macam-macam. Misalnya, kita seneng sama seseorang, tapi kita malu untuk ngomong, buat aku.., kalo suka, ya ngomong aja, apa sih resikonya ?? ya paling dua itu : kalo ngga di terima ..ya di tolak.., terus ?? Tsuma ?? so..what ?? gitu-gitu aja kan ?
Simple, ya emang simple, kalo di terima ya syukur.., kalo di tolak ya sudah.., mau coba lagi, usaha lagi silahkan,..., mau cari lagi yang lain silahkan, atau, kemudian mau berteman aja juga silahkan.., tapi paling ngga.., ada pergerakan yang smooth gitu loh, ada sesuatu yang berjalan, tidak stcuk karena malu. Kalo malu, kita simpen aja, kita pendem dan ternyata si doi ngga suka, adji gileee.., kasian amat lw harus nyimpen tuh rasa bertepuk sebelah nampan kelamaan, kapan move on-nya ???, tapi kalo ternyata dia suka.., kasian juga kan lw.., harusnya seneng bareng udah lama.., eh ngga jadi, udah gitu karena lw kelamaan.., si dia di gaet orang duluan.. wkwkwkwk...,  : , ini hanya sekedar contoh, meskipun nglantur, contoh lainya silahkan cari sendiri.

Lw ambil contoh yang begono, padahal di depan udah nyantumin hadits, ngga syar’i banget sih dur ?? Pale lw ngga syari, gw bilang kan dalam contoh itu “suka”, dan pengunkapan rasa suka, penyaluranya ya tinggal di syar’i-in aja.., kan ga bilang pacaran dan semacamnya. :p

Okelah kurang lebih itu dulu pembahasan tentang malu kali ini. Pembahasan tentang malu pada episode berikutntya (kalo sempet, dan semoga sempet) mungkin lebih serius dari sudut pandang agama.., Islam pastinya. Seep...! Ciao..! 


Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…