Skip to main content

Prinsip #1 Selesaikan Apa Yang Sudah di Mulai

Prinsip #1
Selesaikan Apa yang sudah di mulai

Ya, kali ini saya ingin menyampaikan sebuah prinsip hidup, prinsip dalam menjalani hidup, yaitu : Selesaikanlah apa-apa yang sudah kamu mulai. Dalam bahasa inggisnya katanya sih “finish what you started.!”
Ini adalah prinsip penting dalam hidup, karena anda, saya, kita semua tahu bahwa dalam hidup kita selalu menghadapi atau jika mau menggunakan bahasa yang lebih positifnya “ditemani” oleh yang namanya masalah, problems, Trouble, dan lain sebagainya.. you name it. Setiap orang, selama dia masih hidup, bernafas, maka akan selalu menghadapi yang namanya masalah.
Nah, celakanya masalah-masalah ini seringkali ketika dia datang seolah tiada henti, pokoknya adaaa aja, sampai pada titik tertentu bisa membuat semangat kita terkikis, tergerus dan sampailah pada sautu kata : I’m Done, Whatever, I don’t care anymore, ah sudahlah..., I’m Quit, I Give Up, dan lain sebagainya, you name it.!
Dalam hal apapun, in every single aspect of human life, masalah selalu saja ada, tentunya dan idealnya dan baiknya ketika kita ingin sesuatu, mencapai sesuatu, memperoleh sesuatu, masalah-masalah yang muncul ini diselesaikan. Nahh..., penyelesaian setiap masalah case by case, person to person tidak ada standar baku-nya, tidak harus sama dan tidak selalu sama, ada yang mudah tapi ada juga yang susah, takes time, takes so much effort and energy, maka dalam proses “perjuangan” menyelesaikan masalah yang melelahkan itu, ketika pada akhirnya kita mencapai titik jenuh dan hampir saja menyentuh level.... I want Give Up.., disinilah prinsip hidup ini bisa digunakan, sebagai reminder, sebagai penguat, sebagai refresher, sebagai charger, : Selesaikan apa yang sudah dimulai.!
Dengan memiliki dan melatih diri menerapkan prinsip itu setiap kali kita menghadapi masalah, Insya Allah, akan membuat kita menjadi seorang yang memiliki kepribadian tangguh, pantang menyerah dan sukses dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. 
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…