Skip to main content

Cerita di Balik Nama Abdurnomics,.. Abdurrohman Nomics

Assalamu’alaikum, Ehm..ehm..., hallooo..., apa kabar mas broo..., semoga selalu sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin...,

Ini hari aku ingin bercerita tentang nama, nama ente, nama kite, nama ane, yaa..., sebenarnya kalo mau dikasih judul yang lebih enak, kayaknya judulnya : behind the schene of my names, cerita dibalik nama,.. alah seh, neko-neko. Tapi emang bener, kali ini aku mau bercerita tentang perjalanan nama, nama seorang abdurrohman nomics, simak yaa,.. yaa, sebagai reminder ajaa, buat yang kebetulan kepleset mampir di blog ini, anggap saja sebagai tambahan pengetahuan, pengetahuan yang nggak penting hehehe,..., tapi mungkin suatu saat ketika pemilik nama ini sudah terkenal dan sudah menjadi orang yang berperan penting di masyarakat, saya kira cerita ini bisa menjadi bahan material untuk para pewawancara, #ngarep.! :D

Tau nggak, dulu sewaktu aku kecil, istilahnya setelah dilahirkan, aku tuh sebenarnya dikasih nama dalam akte kelahiranya bukanlah abdurrohman, tetapi kalau ngga salah (berarti bener) namaku : abdul rokhman, yup.., beda-beda tipis lah yaa,.., itu berlangsung sampai yaa sekitaran SD kelas berapa gitu. Karena namaku itu, which is abdul, banyak orang disekitarku yang tau aku dari kecil dan juga teman-temanku di desa pesanggrahan cirebon kenalnya ya abdul, tapi ada sedikit kekeliruan mereka kenalanya Adul, manggilnya juga Adull, kalo di tambahin mas jadinya Mas Adul, kalo di tambahin Ang (kakak) jadinya Ang Adul, dan lain sebagainya.

Dari nama itu berkembang, menjadi berbagai nama yang dalam prosesnya aku sendiri ngga pernah meladeni ketika seseorang manggil nama itu yaitu : Bedul which is artinya adalah celeng atau “Babi”, buat aku ketika udah paham makna itu, biasanya marah, aku sentak balik karena itu adalah penghinaan. Kemudian Dulek which is artinya adalah representatif dari seseorang yang mengecek telur ayam dengan memasukan jarinya ke dubur ayam, itulah dulek, itupun aku biasanya akan marah, karena aku anggap penghinaan, maka dari situ karena kebiasaanku yang bersikap tegas dari kecil kalau ada yang memanggil namaku diluar nama sebenarnya, jadinya yaa.. nggak ada temen atau orang yang berani manggil itu, semuanya hanya masalah sikapa aja sih, kita mau terima atau menolak. By the way, sampai sekarang meskipun namaku sudah berganti, tapi kebanyakan orang yang mengenalku di cirebon, terutama didesaku umumnya mengenalnya dan manggilnya adul.

Naah.., SD kelas 4 aku pindah ke Tegal, disana, didesaku disana kebanyakan teman dan orang2 yang mengenalku manggilnya beda lagi, Dul nya di tambahin suku kata Si.., jadinya SiDul, hahaha.., jadi kayak judul filmya Rano Karno, Si Sidul Anak sekolahan, sampai sekarang mereka kebanyakan kenalnya ya itu, si dul. Padahal, cerita transformasi namaku ini kejadianya adalah yaa waktu di tegal ini, tepatnya pas waktu aku sekolah madrasah Diniyah di Cempaka, seorang guru senior (kepala sekolah) pah Sahudi, dipanggilnya Kyai Hudi yang menyarankan mengganti namaku dari Abdul Rokhman menjadi Abdurrohman, maka di gantilah namaku itu, dan dibuatkan akte baru dengan nama abdurrohman. Pada dasarnya antara abdul rokhman dan abdurrohman dalam bahasa arab penulisanya sama saja, tapi bacaanya yang beda karena Lam ketemu Ra, di baca Lam Syamsiyah.., jadi yang tadinya abdul, L nya lebur kedalam R, tapi dalam bahasa Indonesia penulisanya jadi berbeda. Maka sejak saat itulah namaku berubah dari abdul rokhman menjadi Abdurrohman.
Transformasi namaku itu untungnya terjadi sebelum SD berakhir, jadi meskipun berganti nama, semua ijazah ku dari SD sampai lulus kuliah di FEUI semuanya sama pakai nama Abdurrohman. 

Nah, sewaktu SMP, kelas satu di SMP negeri 1 Plumbon Cirebon, ada seorang guru geography namanya pak heri, waktu itu lagi tren-nya iklan : Acong, Joko, Sitorus, aku lupa iklan apa, kalo nggak salah sih tentang pencoblosan, ndilalah di kelas ada 3 anak yang seenaknya wudele pak guru ini dewek di panggil dengan nama 3 orang itu, dan aku kebetulan dipanggil acong, sejak saat itu, teman-teman sekalasku di SMP manggilnya dan kenalnya Acong, sampai kelas 3 dan sampai sekarang, jadi jangan heran kalau sewaktu-waktu ada orang manggil aconk, karena emang itu panggilanku sewaktu aku di SMP. Buat aku nama itu nggak jelek, dan bukan penghinaan, jadi aku gak bersikap menolak, biasa aja.

Di SMA panggilanku normal, hanya salah satu dari suku namaku umumnya, abdur, dan ada lagi nama panggilanku “yayang”, haahhaha..kalo yang ini seh, nama panggilan khusus dari seseorang lah yaa.., you know who, dan aku pun emang manggilnya sama ke dia. Tapi ada juga yang manggilnya lengkap abdurrohman, jarang yang manggil rohman.

Masuk kuliah banyak yang manggilnya abdur, ada juga yang manggil rohman, dan aku juga dalam moment tertentu ketika berkenalan dengan orang baru seringkali menyarankan memanggil dengan nama rohman.  Ada lagi di organisasi MAPALA sewaktu aku ikut jadi Caang (Calon Anggota), mereka ada yang manggilnya Bedu..., well..., I thought its Ok, gak ada makna khusus yang jelek, jadi I let they call me mith that nama...,

Dan terakhir..., kenapa aku menggunakan nama Abdurrohman Nomics, mmm..., ceritanya aku sendiri lupa, tapi itu kalo nggak salah ada kaitanya dengan last name yang biasanya jadi requirement saat kita daftar sign up misalnya email,FB,dll.., kebetulan namaku kan hanya 1 frase, jadi kayaknya kurang maka perlulah kiranya aku menambahkan nama tambahan, setelah aku pikir dan pikir, ketemulah salah satunya kata ini, “nomics”/ nomix, which is bukan aku sebenarnya yang pertama make, udah umum dan banyak yang make kok, hanya, kebetulan saja related dengan bidang ilmu yang aku pelajadi yaitu ekonomi, jadi kalo dari segi pengertian dan untuk gaya-gayaanya, narxisnya adalah nama ini mewakili makna : Ilmu yang mempelajari tentang Abdur..hahahahaa..., #Ngatjo..!!, tapi emang begitulah ceritanya, dan untuk selanjut-selanjutnya, kata nomcs ini biasa aku pake untuk username dengan menggabungkanya dengan kata abdur, jadinya abdurnomics.

Yup..., itulah kira-kira cerita dibalik nama abdurrohman nomics.., panjang juga yahh..., hehehehe, C U.. have a nice day.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…