Ibu, Maaf.., Aku Memilih Menjadi Pengusaha, Menjadi Petani

Share:

Hari ini, aku berkesempatan untuk berkunjung ke tempat usaha pak Kunto, yaitu kebun hidroponik yang dikembangkanya di wilayah cirendeu, Tangerang selatan. Setelah janjian, pukul 2 setelah shalat jum’at aku meluncur dan bertemu langsung dengan beliu. Tujuan utamanya jelas, ingin tahu lebih dalam perihal dunia hidroponik, prospek pasarnya dan bagaimana kerjasama untuk mengembangkan untuk skala komersial.

Bertemu dengan beliau, kita berdiskusi panjang lebar, ngalor ngidul, saling menyelami satu sama lain, melihat cara pandang, mindset masing-masing dan visi yang ingin dibangun kedepanya. Banyak kesamaan yang didapat, dan rasanya menyenangkan bisa bertemu dengan seorang yang memiliki padangan sama tentang suatu dunia, dunia usaha berbasis pertanian, Indonesia.
Aku pulang sore, dan saat ini aku terduduk di depan kemputer sambil mendengarkan lagu-lagu campur aduk, gado-gado, ada jepang, rok, pop indo, india, dll.., sambil browsing-browsing tentang dunia bisnis pertanian. Dan tetiba teringat tentang seseorang yang sangat penting dalam hidupku, seseorang yang telah pergi lebih dulu menghadap-Nya, Ibu..., I miss u mom..,

Ada perasaan terenyuh dalam hatiku saat ini, tentang bagaimana saat ini aku memilih jalan hidup, menjalani hidup diatas idealisme dan cita-cita yang telah aku tuliskan sejak lama, sejak beliau ada, sejak SMA, sejak aku mengenal bahwa hidup bukan hanya sekedar bicara tentang AKU, tapi juga untuk sesama, untuk mereka, orang-orang yang aku sayang, orang-orang yang dalam kategori tertentu dapat dikatakan belum beruntung, orang-orang yang dalam bahasa mahasiswa butuh pertolongan, kontribusi nyata dari orang-orang yang dalam kategori tertentu bisa dikatakan lebih beruntung, kita.
Hari ini aku ingin meminta maaf, kepada engkau yang tersayang, mama...,

Aku meminta maaf karena keegoisanku, yang tetap kekeuh untuk memilih jalan hidup seperti ini, jalan hidup yang tidak umum yang pada akhirnya sampai pada saat engkau pergi menghadap-Nya, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh anak ini,...,

Aku meminta maaf karena terkesan telah mengorbankan keluarga atas keegoisanku memilih jalan ini. Tapi engkau tahu..., inilah aku, seperti inilah aku maa..., seorang yang tidak puas melakukan hal yang sederhana sementara aku berkeyakinan bisa melakukan lebih dari yang sederhana. Aku ingin melakukan sesuatu yang besar, yang lebih besar dari hanya sekedar..., dan karena hal itu besar, maka aku juga tahu akan besar pula tantanganya, akan besar pula pengorbananya, waktu, pikiran, tenaga, bahkan rasa, bahkan keluarga. Oleh karenanya, maafin aku maa..., karena atas nama mimpi, idealisme hidup, aku justru menuntut banyak support dan do’a-mu,..

Maaf, aku masih keras untuk memilih jalan hidup ini maa,.., entah seberapa besar nanti aku bisa mewujudkan mimpi-mimpi ini, entah seberapa kuat aku bisa menanggung tanggung jawab ini, tapi niatku satu, Lillahi ta’ala.., karena Allah.., aku ingin, dalam hidup yang hanya sekali ini, bisa melakukan hal yang besar, bisa berkontribusi besar untuk kebaikanku, masa depan anak cucumu, agama, umat Islam, masyarakat, bangsa dan negara yang aku cintai ini, Indonesia. Maaf aku tetep kekeuh memilih jalan menjadi pengusaha, menjadi petani. Hal yang dalam dunia masyarakatku saat ini masih dianggap remeh-temeh dan tidak membanggakan, tentu aku paham, itu bukan karena kesalahan mereka, tapi karena keterbatasn pengetahuan mereka dan pola pikir yang terbentuk dalam pikiran mereka dari dulu sampai saat ini.

Tapi aku tidak perduli itu mah., aku tidak perduli apa pandangan mereka, meskipun seringkali melelahkan, tapi aku berkeyakinan bahwa jalan ini, jalan yang aku tempuh ini akan memberikan manfaat yang besar bagi mereka, bagi masa depan anak cucu mereka. Aku minta ridho-mu mah.., I miss u... 

Post a Comment