Saturday, November 29, 2014

Jangan Menghina (kan) Diri Sendiri

Salah-satu favorit orang-orang membela diri itu adalah: saya sebenarnya juga tidak mau seperti ini, tapi mau apa lagi?

Tanyakan ke (maaf) pekerja seks komersil, kenapa mereka melakukannya? Maka jawaban khasnya adalah, aku sebenarnya juga tidak mau seperti ini, tapi mau apa lagi? Demi anak-anak. Biar bisa makan.

Tanyakan ke para pemabuk, bang, kenapa abang mabuk2an? Maka jawaban mereka, oi, dek, aku ini sebenarnya nggak mau mabuk, tapi mau apa lagi? Pusing kepalaku, dengan mabuk aku merasa bahagia.

Tanyakan ke para pengobat, narkotika? Maka jawabannya, aku tidak mau seperti ini, aku mau sembuh, tapi mau apa lagi?

Tanyakan ke homo, lesbian, banci, kenapa mereka punya preferensi seks yang berbeda? Maka jawaban mereka, kami juga tidak mau seperti ini, kalau bisa kamu mau normal. Ini bukan mau kami.

Tanyakan ke orang2 di sekitar kita. Favorit sekali pembelaan diri seperti ini.

Tanyakan ke perambah hutan, perusak hutan? Kami mau disuruh kerja apa? Berikan dulu kami kesejahteraan baru berhenti.

Tanyakan ke petani tembakau yg dibuat untuk rokok, atau buruh2 pabrik rokok. Kami harus kerja apa? Kami juga tidak mau seperti ini.

Tanyakanlah ke semua orang. Termasuk diri sendiri. Saat malas, kita juga sering ngeles. Ketika pekerjaan tidak selesai2, kita juga sering menimbun argumen. Saat tidak becus, gagal, berantakan, mengecewakan. Bukankah kita juga favorit sekali seperti mereka.

Nah, jadi sebenarnya ini yang keliru siapa? Bukankah sungguh, derajat manusia itu lebih tinggi dari hewan dan tumbuhan? Berhentilah membuat diri sendiri hina. Kalian tahu cicak. Makanan favoritnya nyamuk. Mari kita bandingkan, yg satu bisa terbang, bisa kemana2, yg satu hanya bisa merayap. Tapi cicak tetap bisa makan nyamuk, dengan sabar, terus ihktiar menunggu. Kita manusia memangnya lebih rendah dibanding cicak?

Lihat air yang menetes di atas batu. Terus-menerus. Lama-lama batunya berlubang. Air itu bahkan bukan mahkluk hidup, tapi bisa membuat perubahan besar, meski hanya tetes-tetes kecil. Manusia lebih mulia dibanding setetes air. Kita diberikan akal, kekuatan berpikir, kekuatan tangan. Kita manusia, diberikan kekuatan untuk mengubah nasib kita. Tidak bisa hanya bilang: mau apa lagi, sudah beginilah.

Maka sungguh, siapapun yang selalu saja bilang 'mau apa lagi', menyalahkan kondisi, lantas terus asyik melakukan kemaksiatan atau hal2 mubazir atau hal2 merusak, mereka jelas tidak sedang menghina Allah. Tidak sama sekali. Allah itu mulia, meskipun seluruh dunia maksiat, seluruh dunia tenggelam dalam kesia2an, hal2 merusak. Tapi orang2 ini, justeru sedang menghina dirinya sendiri. Melemparkan derajat manusianya yang tinggi ke tempat rendah.

Mereka sedang merendahkan diri sendiri. Termasuk kita, jika kitalah pelakunya, kita sedang merendahkan diri sendiri. Lupa betapa tingginya derajat manusia.
*Tere Liye*

Post a Comment