Skip to main content

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.

Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita berada diposisi satu langkah didepan akan menentukan seberapa banyak kemungkinan kesempatan yang bisa kita ambil, kita manfaatkan untuk kedepanya, peluang2 terbaik untuk menjadi pemenang.

Saya memiliki satu contoh klasik pengalaman saya yang berkaitan dengan tema ini, yaitu sewaktu saya masih duduk di kelas 3 SMA. Waktu itu saya adalah anak IPS, singkat cerita saya ingin masuk Universitas Indonesia (UI), salah satu peluang untuk bisa masuk UI waktu itu adalah melalui jalur PPKB, yaitu jalur undangan yang di berikan oleh UI kepada sekolah2 berprestasi di Indonesia, salah satunya adalah SMA ku di Cirebon. Berbeda dengan anak IPA, anak IPS memiliki peluang untuk bisa diterima di UI dengan cara yang lebih ringan, yaitu nilai rata2 yang di ambil adalah kelas 3 aja, dan hanya rangking 1 kalau tidak salah karena ada kuota untuk setiap SMA dan kuota untuk IPS jauh lebih sedikit dibanding IPA.

Karena aku ingin masuk UI, maka target pertamaku adalah berusaha keras bagaimana caranya aku bisa Rangking 1 di kelas. Singkat cerita aku hanya berhasil menadapat Rangkin 4 di kelas, alias aku gagal. Yang jadi ,masalah adalah, antara Rangkin 1 sampai 4 sebenarnya nilai Raportnya sama.., alias pengurutan itu didasarkan oleh faktor X yang lain.., yang jadi masalah lagi waktu itu adalah bahwa ada salah satu hasil mata pelajaranku yaitu Bahasa Indonesia itu sama dengan hasil salah satu temanku, yaitu 7,5.., tapi di raport nilaiku menjadi 7 dan temanku karena satu alasan dinaikan jadi 8, which is buat aku waktu itu merasa its not fair!!. Kenapa, bisa anda lihat, kalau saja nilai ku dengan temanku diperlakukan sama, di naikan, maka secara otomatis nilai raportku bisa unggul 1 angka dibanding 3 temanku yang lain, yang mana itu berarti aku dapat menempati Rangking 1 dan bisa mengambil peluang untuk mendaftar PPKB di UI.

U ce....!?? 1 poin, 1 angka atau bahkan dalam dunia kompetisi balapan apapun, nila 0,001 detik memuiliki arti yang sangat signifikan dalam menentukan kita menajdi apa dan bisa menadapat peluang apa didepan, arti signifikan dari makna sebuah kalimat sederhana “ one step ahead”. J

Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…