Sebuah Karangan : Yang Sering Tertinggal

Share:
Rasanya absurd bahwa tiba-tiba aku ingin menulis sebuah cerita, sebuah karangan, karena kenyataan bahwa aku tidak memiliki bakat mengarang, aku tidak memiliki latar belakang pendidikan bahasa , ilmu budaya dan sejenisnya yang sedikit kurang atau lebihnya akan dapat mendukung proses pembuatan sebuah karangan yang baik dan benar, aku tidak memiliki motivasi dan tujuan yang spesifik, alasan mengapa aku perlu membuat sebuah karangan dan aku tidak memiliki gambaran tema apa yang akan aku angkat untuk dijadikan karangan. 

Terkait dengan tema, aku tidak mengatakan bahwa aku kekurangan ide atau katakanlah tidak ada tema yang bisa aku angkat untuk membuat cerita tetapi justru sebaliknya, terlalu banyak tema dan bahan cerita yang bisa diangkat sehingga rasanya cukup sulit buat orang yang tidak berpengalaman menulis seperti aku untuk memilah dan memilih tema yang tepat dan bahan cerita yang tepat serta menuangkanya dalam kata-kata yang tepat. Tapi ,.. ah sudahlah, aku pikir semuanya itu hanyalah proses, proses yang berangkat dari rasa kemauan saja, tidak ada pakem yang baku dalam proses kreatif, termasuk dalam membuat karangan. Meskipun ini hanya sebuah dugaan saja, tetapi aku pikir hampir setiap penulis, setiap pengarang, baik yang terkenal atau tidak, baik yang baru atau sudah senior dan telah menerbitkan banyak karya, mereka pasti pernah mengalami masa-masa “tidak mudah” dalam proses membuat karangan-karanganya. Tapi sekali lagi, itu hanya dugaanku saja, just my guess.., biarpun aku tidak begitu memahami seluk beluk dunia karangan, tapi paling tidak aku pernah belajar dasar-dasar pelajaran bahasa, aku masih ingat ada pembagian karangan menjadi beberapa jenis, seperti karangan deskriptif, karangan naratif, dan lainya yang aku sudah lupa. 
Mungkin ini hanya dugaanku saja, pikiranku saja.., tapi jujur.., aku merasa dalam banyak hal, seringkali berasa tertinggal, tertinggal dari kebanyakan orang terutama teman-teman yang satu angkatan denganku. 

Contoh yang paling signifikan dan nyata adalah : waktu kuliah aku tertinggal, yang lain udah pada lulus, aku masih betah aja tinggal di kampus, contoh lainya adalah ketika teman-temanku kebanyakan bahkan adik-adik kelas ku sudah menikah..aku masih asik-asik aja ber-single ria..Fufufufuu..., ketika yang lain tampaknya sudah sukses, aku kok malah masih stagnan dan malah melorot alias bangkrut.
Apa itu salah, Of Course NOT.!!
Aku sendiri tidak merasa bahwa hal itu salah, karena kalau mau ditilik lebih spesifik, lebih dalam, maka pada dasarnya pernyataan bahwa aku merasa sering tertinggal pun sebenarnya tidak relevan. Kenapa.., karena aku dan mereka masing-masing berangkat memiliki tujuan-tujuan, beserta alasan-alasan yang berbeda, pilihan jalan yang berbeda, pilihan cara yang berbeda dan pastinya kemampuan serta strategi yang berbeda. Jadi jika hasilnya tidak sama sebenarnya wajar saja dan memang tidak di haruskan sama.
Tapi.., memang sebagai manusia biasa, ketika sadar tak sadar aku membandingkan achievement orang lain dengan achievement ku sendiri rasanya kok aku ingin berkata.., Screw me..! I’m Screwd.! Hahahahaa..., payaaahhh..

Yang sering tertinggal.., judul ini kedengaranya sangat Negetif me.., Pesimis Me..., seolah tak menghargai banyak hal achievement lain yang udah aku capai meski tidak dimaksudkan dalam rangka untuk bersaing. Tapi.., it’s ok lah.., kadang kata-kata seperti itu perlu diangkat dalam rangka menegur, mengingatkan diri bahwa masih banyak hal yang perlu kamu lakukan, perlu kamu capai, jangan berhenti, jangan menyerah, dan bahwa kamu masih belum benar-benar mengoptimalkan segala daya kemampuan mu yang terbaik. 

Yang sering tertinggal, tak apa tertinggal.., selama masih ada jalan yang harus ditapaki, selama masih ada hal yang bisa di usahakan, selama masih ada energi yang bisa di gunakan, peluang untuk maju berada di depan, unggul belumlah hilang. Kadang sebuah energi besar baru bisa keluar dari keadaan tak mengenakkan yang kemudian memecut untuk melesat jauh kedepan. Maka tetapla optimis..., tetap sisakan 1 persen harapan untuk bisa maju kedepan ketika 99 persen hati sudah berkata, Tak ada lagi harapan. 

Biarpun menjadi Yang sering tertinggal.., Tetaplah semangat.!! 


Post a Comment