Friday, January 10, 2014

Anita Zielinska


Ehmm..., jadi ceritanya, kali ini aku mau memperkenalkan salah satu teman, sahabat ku dalam dunia maya.
Maya ? maksudnya ?
Ya..,dunia maya, dunia yang hanya terhubung oleh jaringan kabel dan sinyal apapun jenisnya, apapun sebutanya, pokoknya maya..., maya karena dalam realitanya kita tidak pernah atau lebih tepatnya belum pernah bertemu sama sekali, sama sekali..!!.

Oke, namanya Anita Zielinska, dia berasal dari Polandia.. bahasanya adalah polish..,
Wo wo wo wo...., ntar dulu.., maksud lw, temen lw bule ? orang dari luar negeri..?
Iye.., emang kenape ? masbuloh... Masalah buat loh ?? :D,
Ngga seeh.., biasa aja.., kenapa gw nanya soalnya gw pikir temen lw bukan bule tapi pa’le.. hahahaha...,  ( gariiing..)

Okeh, kita lanjutkan.., yup, dia bule,..., dan dia perempuan (yaeyalaah.., dah jelas kalee dari namanya)
Dimana lw kenal si doi.. ?
Kenal dimana ? hmm.., coba gw inget-inget lagi yah...,
Begini ceritanya : :D
Awalnya aku lagi ngenet biasa di tempatnya warnet abang gw di cipete.., lagi enak2nya ngenet datanglah salah satu adik cewe gw yang bernama lina.., ya lina. Terus si lina ini, sambil ngobrol nanya , bang udah tau omegle belum ? gw dengan polosnya, belum, apaan tuh ?  (hahahaha.., gw emang polos kan orangnya, hweeeks..), masa  ngga tau sih.., ituuu.., situs yang menghubungkan kita untuk bisa ngobrol dengan orang asing , bener2 asing alias strangers.., kan udah terkenal, masa sih g tau bang ?
Maksud lw.., kalau udah terkenal , gw juga harus kenal gitoooh ?? :D
Penasaran juga , akhirnya aku buka, pas dibuka.., say hello, hi.., maka dalam beberapa detik (tergantung kecepatan jaringanya sih ya..) akan ada balasan orang entah darimana asalnya balas menyapa, umumnya mereka akan memperkenalkan diri, dan meminta atau bertanya ID kita, khususnya : Jenis kelamin dan asal negara, kalau kebetulan menarik maka chatting berlanjut, kalau ngga ya langsung di tinggal dan cari lagi yang lain. 

Singkat cerita, dari sekian orang yang disapa dan berhasil ngobrol.., ada yang dari turki, india, usa, australia.., nyangkutlah aku sama orang yang satu ini, yup, tokoh utama yang diceritakan dalam tulisan ini : Anita Zielinska
Awalnya kita say hello,..., terus pas ngbrol g tau kenapa setiap aku tanya loading jawabanya lama.., makanya aku bilang (agak lupa seeh) : sorry.., maybe you want to talk to someone else.., intinya aku mau ganti cari temen yang lain.., eh tiba-tiba dia bales buru-buru : wait.. wait.. wait.., sorry, my english is not good, I’m still learning,..
Hoooh..., gitu, trus aku tanya, emang kamu orang mana ? di jawabnya jujur-jujur aja.. polandia..,
Trus aku cari dimana itu polands di maps, ternyata sebelahnya jerman, bekas negara eropa timur.
Setelah itu akhirnya kita ngobrol panjang, lama..., dan kenal satu sama lain, dia minta kita berteman di Facebook dan kita saling memberikan alamat masing-masing.
Selanjutnya, kita masih berteman sampai sekarang.
Hanya saja, lucunya pemirsa,.. si bule ini, meskipun tampangnya “dewasa” ternyata, dia ini masih anak kelas 1 SMA, wadoooh...,gw jadi berasa tua, dan berteman dengan anak sekecil ini jadi tampak dikira pedophile g ya.,? hahahahaha..
Ngga lah.., lucu aja.., 

Karena pertemanan itu kita jadi sering ngobrol, lewat chatting FB tentunya, dia ngasih alamat skype nya dan seringkali ngajak ngobrol lewat skype, tapi berhubung jaringanku lelet, ngga pernah aku tanggapi. Ntar deh.., ntar deh.. :D .
Kita sering ngobrol berjam-jam.., biasanya pas larut malam, berhubung ada beda waktu sekitar 5 jam antara Indonesia dan Polandia. Karena pertemanan itu aku jadi iseng ikut belajar bahasa polandia meskipun hanya sepatah dua patah kata yaaah.., dan menurutnya, bahasa polandia adalah bahasa yang paling sulit di dunia, hahaha.., benarka.. Wallahu’alam. 

Dari mulai kita kenalan sampai sekarang sepertinya kalau aku ingat sudah lebih dari 1 tahun kita berteman dan kita masih sering kontak. Dia sudah kelas 2 kalau tidak salah. Terakhir kali ngobrol, dia lagi fall in love.., dia seorang beliebers.., sebuah istilah yang aku baru kenal dari dia, yaitu sebutan untuk fans beratnya justin bieber. Hahaha..., dasar ABG.

Aku berteman sama dia, ngga lebih ngga bukan, seru aja bisa tahu perilaku ABG bule.., ternyata ngga jauh beda sama ABG-ABG alay dikita.., dia suka cerita bagaimana malasnya sekolah, bahwa sekolah itu ngga guna banget.., bagaimana dia pengen sekali ketemu sama pujaan hatinya bieber di konser nanti (ntah kapan).
Well.., aku sih sejauh ini jadi pendengar yang baik aja, dan mencoba jadi seorang yang memang secara usia jauh lebih dewasa,tapi ngg membuat gap.., jadi sampai sekarang tetp connect terus.., aku bilang kapan waktu ada rezeki, aku akan main ke eropa, ke kotanya, dan kalau aku main kesana, ntar dia harus jadi guidenya.. and she was answer, it’s my pleasure.., I’ll wait.. :D 



Wednesday, January 08, 2014

Belajar dari Joni



Joni.., sipa itu joni ? trus apa yang perlu kita pelajari dari joni ?
Joni joni joni joni joni.., joni siapaaa ?? joni iskandar, penyanyi musik dangdut tempo doeloe yang terkenal dengan lagunya : aku bukan pengemis cintaaaaa.., teeet.., itu ? Bukaaan..
Joni lakon dalam film janji joni itu (siapa ya, nicolas saputra).., Bukan jugaaaa...
Terus joni siapa ???
Sabar brooo..., ini mau gw jelasin.
Yup.., tulisan kali ini akan mengulas tentang siapa joni dan kenapa kita perlu belajar atau lebih tepatnya mengambil peajaran pada tokoh yang satu ini. (ngga harus sih ya, karena kalo harus kesanya Wjib.! )
Namanya Joni : J O N I.., ya, joni.
Dia adalah seorang buta
Jadi maksud lw.., Joni Si Buta gitu..?
Iyeee,...
Owh.., oke....

Dia adalah seorang buta yang hidup di daerah penduduk wilayah kukusan, depok, dekat dengan kampus UI bagian barat. Dia adalah sosok yang aku kenal (ngga sengaja kenal sebenernya, ngga pernah kenalan juga, dia pun ngga kenal aku, Cuma kebetulan kenal karena terlanjur kenal, :D ) sejak aku tinggal di kontrakkan kukusan, saat aku masih kuliah di UI. Aku pindah kontrakkan dari Asrama UI sejak semester ke-4, itu kira-kira tepatnya adalah tahun 2006. 

Dimulai dari hidup di kontrakan itu, salah satu rutinitas yang aku alami adalah setiap hari seorang yang namanya joni ini berseliweran bolak –balik dari satu titik jalan (entah aku ngga tau titik yang mana, alias hanya joni yang tau) sampai pada titik jalan yang lainya. Dan diantara dua titik jalan yang dilewati tersebut adalah jalan yang berada dihalaman kontrakanku. Setiap hari si joni lewat dengan perlahan, pelan tapi pasti... hahaha, apaan sih, dari satu halaman rumah ke halaman rumah yang lain, sambil merokok dan sambil menyadongkan tanganya sambil bilang : minta, buat jajan. 

Perihal merokok, saya sendiri heran tapi ngga pernah nanya, siapa nih orangnya yang pertama kali ngajarin si joni merokok, dan perihal jajan, aku juga ngga tau siapa yang pertama kali ngajarin. Dia bolak-balik jalan di dijalan yang sama setiap hari, seolah sudah hapal betul posisi dari batu coneblok yang terpasang di jalan pada waktu itu, setiap hari.., setiap kali lewat ada orang yang ngasih, sambil manggil jooon.., sedangkan aku, kadang ngasih, kadang juga cuma manggil Joon..,menyapa maksudnya.. hehehehe..
Siapa si joni ini, apakah penduduk asli, siapa orang tuanya, tinggalnya dimana, aku sendiri tidak pernah tahu dan memang nyatanya tidak pernah nyari tahu, bahkan , o ya yah.., aku baru nyadar juga tentang hal itu pas aku nulis ini..,waduh, dong dong dong.... hahahahaha..

Dari perilaku dan tindakan rutin inilah si Joni menggantungkan hidunya, dan ya..., dia hidup kawan.., bukan sesuatu “pekerjaan” yang harus dibanggakan sih, hidup dari menggantungkan belas kasihan orang lain, tapi, itu benar adanya,..dia hidup.

Kemudian setelah beberapa tahun berlalu, kondisi jalan pun telah berubah, sudah di cor, tetiba suatu waktu aku lewat di atas jalan yang menanjak di persimpangan jalan Kodja itu, dan.., aku melihat dia,aku bertemu dia lagi kawan.., Jooon.., sapaku diatas motor, dan diapun menjawab.., (aku lupa jawabanya). Dia ini orangnya memang tampak seperti seorang idiot, tapi lucu. 

Dari situ aku terheran, dan “kagum”, waw.., betapa maha benarnya dan maha pengasihnya Rabb Allah Subhanahuwata’ala dalam memelihara makhluk yang diciptakanya, bahwasanya, Dialah Allah yang menciptakan dan Dialah yang akan memenuhi Rizkinya..
Rezeki itu adalah janji Allah kawan, sebuah kepastian. Tidak mungkin Allah akan menelantarkan hambanya yang Dia Ciptakan sendiri. Si Joni ini contohnya, entah darimana inisiatifnya, tapi hanya dengan menjalankan rutinitas seperti itu saja.., dia hidup kawan, sampai sekarang. Dia hidup, bahkan seringkali sambil merokok di jalan, gila ngga tuh.., hahahaha.., 

Satu hal yang sering aku heran dan kagumi adalah , dalam berjalan melewati jalanan itu, si Joni tak henti-hentinya senyum, (mungkin kamu menganggapnya gila) seolah dia punya dunia imajinasinya sendiri, dan sambil nyanyi, entah lagu apa yang dia nyanyikan. Tapi buat aku yang melihat sangat tampak sekali kelucuan, keluguan dan ketidak-ada-bebanan dia dalam menjalani aktifitas hitup rutin itu.., kayaknya, seneeeng aja, ya aslinya aku ngga tau juga sih ya.., balik lagi, kebenaran yang sebenarnya, hanya Joni yang tau.. :D

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari cerita si Joni ini ? , bahwa :


  1.  Rezeki Allah itu pasti adanya, jadi tidak lazim jika kita ragu dan khawatir
  2.  Berusaha, sekecil apapun adalah cara kita, bentuk ikhtiar kita dalam usaha menjemput rezeki dan musabab Allah menyampaikan Rezekinya ke kita
  3. Konsisten adalah kunci dari keberlangsungan jalan sampainya rezeki Allah kepada kita
  4. Berani ,“tidak mallu” adalah sikap yang perlu kita bangun dalam usaha menjemput rezeki kita.
  5. ‘ketidaksempurnaan”sosok seorang joni harusnya membuat kita sadar, kita yang notabene lahir dengan keadaan yang lebih “sempurna” bahwa kita bisa melakukan lebih banyak hal yang besar, positif, jauh lebih bermanfaat dan apa yang bisa dilakukan Joni 
  6. Joni menjadi inspirasi bahwa jika kita yang dikaruniai kelbihan dibandingkan dia menjadi orang yang mudah menyerah,maka hal itu adalah sangat memalukan.
  7.  Joni itu konsisten dengan apa yang dilakukanya, dengan segala keterbatasanya.
  8. Joni itu selalu tersenyum, riang, seolah tidak punya beban hidup.
  9.  JANGAN MEROKOK seperti JONI, udah miskin, cari penyakit pula.. (lhooo...!??)

OKE, mungkin kurang lebih itulah yang bisa aku sampaikan melalui tulisan ini, tulisan tentang joni, tulisan tentang betapa hal-hal yang sangat sederhana bahkan sepele yang mungkin sering kita lihat dalam keseharian kita, jika kita amati, jika kita renungkan, sebenarnya didalamnya sungguh sarat dengan hikmah dan pelajaran yang berharga, salah satunya,.. Cerita si Joni.

Monday, January 06, 2014

Pendidikan, Siapa suruh belajar 6-3-3-4 tahun ?




Pagi itu, di bulan agustus 29-2013, adalah pengumuman penerimaan calon santriwati gontor setelah melewati masa ujian dan libur di minggu2 sebelumnya. Tidak seperti biasanya atau tidak seperti pada umumnya, acara pengumuman di salah satu pesantren tersohor di negeri ini bahkan di beberapa negara di luar negeri di adakan  secara sakral, melalui acara ceremoni yang dipersiapkan oleh panitia pondok. Pengumuman dengan cara seperti ini masih tergolong klasik, orang tua atau wali dari calon santri harus hadir untuk mendengarkan pengumuman secara langsung yang dibacakan secara lisan oleh para ustadz secara bergantian dari atas panggung. Tidak umum karena di era yang sudah modern seperti ini dimana proses transfer informasi bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai tools teknologi, terutama teknologi berbasis internet. Kalau mau di pikir secara praktis, tidakkah akan lebih mudah jika pengumuman itu dilakukan melalui media internet, website, sehingga para calon santri yang tidak di terima tidak perlu riweh, tidak perlu mengeluarkan biaya yang tidak perlu seperti biaya transportasi yang pada akhirnya “sia-sia”. 

Okeee.., tampak merepotkan memang, tapi itulah yang masih terjadi di Gontor sampai tahun ajaran 2013 yang lalu, mereka sendiri sebenarnya menyadari, tapi memang memiliki alasan tersendiri kenapa model pengumuman yang dipakai adalah seperti itu. Tapi memang bagian yang serunya adalah sisi dramatis yang bisa tampil melalui acara itu, ketika nama calon santri satu-persatu disebutkan, maka perasaan berdebar, cemas, harap, khawatir tiba-tiba saja muncul pada diri semua calon dan wali santri. Bukan apa2, tetapi karena pondok ini adalah satu diantara pondok yang memang tidak memberikan jaminan apapun pada anda (siapa anda) untuk masuk dan diterima, tidak peduli anda adalah alumni, kyai, ustadz yang mengajar disitu, kolega, pendonor, pejabat,jenderal, bupati, menteri,bahkan presiden, tidak ada jaminan bahwa atas dasar itu anak atau keluarga anda yang ingin masuk bisa terjamin masuk. 

Sebelum acara pengumuman dimulai, biasalah…, ada sambutan terlebih dahulu. Salah satu sambutan yang disampaikan dalam acara ini adalah oleh salah satu pemimpin dari pondok ini, yaitu ustadz KH.Hasan Abdullah Sahal. Dan inti dari tulisan ini sebenarnya adalah ingin membahas tema dan isi dari pesan yang disampaikan oleh bapak kyai ini. 

Hal pertama yang disampaikan adalah bahwa orang tua calon santri harus NGERTI, :D , ngerti disini dalam artian bahwa tugas dan tanggung jawab dalam mendidik anak adalah bukan HANYA Gontor tetapi tanggung jawab kita semua (kurang lebih seperti itu), sebenarnya kalau mau dipikir statement ini muncul sebagai usaha untuk meminimalisir potensi “protes dan kekecawaan” dari santri dan wali santri yang notabene sudah berusaha banyak dan “habis-habisan” biaya, waktu dan tenaga dalam mengupayakan agar anaknya bisa masuk ke pondok ini. Tapi pun memang ada benarnya, bahwa tugas mendidik adalah bukan hanya tanggung jawab gontor, artinya kalau tidak masuk gontor maka masih ada tempat lain yang juga bagus sebagai wadah untuk memberikan pendidikan, begitulah kira-kira, makanya disitu dilarang dan dikatakan tabu kalau gontor dibanding-bandingkan dengan pesantren/tempat pendidikan lainya, kenapa karena tidak fair, bahwa memang masing-masingnya pasti memiliki kelebihan dan keuranganya sendiri. 

Hal yang kedua adalah bahwa lamanya proses pendidikan. Pesan yang disampaikan disini adalah bahwa lamanya poendidikan di gontor adalah tidak ditentukan harus 3 tahun (setara SMP), 3 tahun (setara SMA) dan 4 tahun (setara Kuliah), tidak.. tidak demikian. Penekananya adalah SIAPA YANG MENYURUH BAHWA LAMANYA PENDIDIKAN KITA HARUS SEKIAN TAHUN , SIAPA ????
Jawabanya adalah sistem yang telah dibuat dan sedang/masih diadopsi oleh dunia pendidikan di Indonesia sekarang ini.  Statement itu awalnya terdengar aneh di telinga, bahkan, ya.. di telingaku. Kenyataanya dalam hal lamanya pendidikan, yang sudah menjadi common sense dikepalaku dan masyarakat umum ya seperti itulah : 6 tahun SD, 3 tahun SMP atau setara, 3 tahun SMA atau setara dan 4 tahun kulian setara S1. Kalau misalnya melenceng dari pakem itu terutama untuk tataran SD-SMA, maka yang terjadi adalah judgement dari masyarakat bahwa orang tersebut : “bodoh/tertinggal” karena jika tidak kalau tidak mengikuti pakem tersebut berarti anak itu ada masanya tidak naik kelas alias tinggal kelas, image yang terbangun dan berkembang di masyarakat entah dari kapan dan siapa yang memulainya adalah anak itu payah/bodoh/tertinggal. Sungguh konotasi yang sangat tidak fair dan tidak menyenangkan, kecuali kalau tinggal kelasnya itu disebabkan oleh alasan-alasan yang mafhum seperti sakit yang panjang sehingga harus berobat rawat yang cukup lama misalnya. Tidak fair karena hukum tak tertulis dari sudut pandang seperti itu menyatakkan bahwa dalam proses belajar tidak dikenal yang namanya gagal, tidak ada toleransi atas kata gagal, belajar identik dengan harus sukses/ harus lulus sekali tancap gas, apapun  dan bagaimanapun caranya, gagal adalah tabu, tidak naik adalah gagal, tidak naik adalah tabu, buat apa belajar kalau tidak naik, buat apa belajar kalau tetep saja “bodoh” karena anak yang tidak naik kelas adalah gagal dan gagal adalah “bodoh”. Ya.. cara pandang seperti itu sungguh sangat tidak fair.., tidak fair karena sama sekali tidak mempertimbangkan dan memperhitungkan usaha dari masing masing pelaku (siswa), tidak mempertimbangkan kemampuan atau daya tangkap masing-masing siswa dan tidak mempertimbangkan apakah metode pembelajaran yang digunakan telah tepat dan telah mampu mengakomodasi masing-masing siswa.
Tidak menyenangkan, ya sangat jelas tidak menyenangkan bagi anak yang kebetulan mengalami nasib itu dan harus di cap “bodoh / tertinggal”.  

Kenyataanya sebenarnya tidak ada pakem bahwa belajar harus sekian tahun – sekian tahun, bahkan yang namanya belajar kalau kita mengikuti petunjuk rasul adalah : seumur hidup, dari buaian sampai liang lahat. Artinya tidak ada kata terlambat dan selesai dalam belajar. Tapi kan itu berkait dengan belajar dalam arti umum, sedangkan ini kan belajar dalam arti formal, pendidikan formal ?? bukan begitu sanggahanya ?.. mungkin itu terlihat seolah-olah benar, tapi sungguh sangat tidak benar, so what ?? emangnya atas dasar apa kamu membedakan belajar dalam arti formal dan ngga formal, bukankan pokok belajar adalah proses transformasi dari tidak atau belum mengetahui atau belum bisa sesuatu, belum memahami sesuatu menjadi tahu, menjadi paham, menjadi bisa ? formal atau tidak adalah dikotomi yang digunakan untuk membedakan melalui institusi apa orang tersebut mendapat pengetahuan, pemahaman, kebisaan itu. pada dasarnya sama saja. So what ?? apakah anda jika belajar bahasa inggris misalnya, yang satu melalui lembaga tertentu (formal) 3 tahun baru bisa, yang satunya belajar sendiri (otodidak/tidak formal) 1 bulan bisa, fasyeh dan lancar ? mana yang lebih berguna, mana yangf lebih bermanfaat ? sama saja, dua-duanya bisa, hanya waktu prosesnya yang berbeda. 

Jadi pesan dari tulisan ini adalah bahwa dalam proses belajar khususnya berkaitan dengan lamanya waktu, tidak ada pakem  harus 3 tahun, 4 tahun, 6 tahun, dsb.. yang ada adalah belajar itu seumur hidup, makin lama belajar bukankah makin lebih baik?. Dan terkait dengan angka2 tersebut, adalah lebih baik jika kita yang sudah memiliki wawasan belajar tidak lagi munJudge atas dasar angka-angka itu bahwa “seseorang dalam proses belajar jika ingin dianggap normal harus mengikuti pakem angka-angka tersebut, dan jika tidak mengikuti pakem tersebut dianggap ngga “normal” alias bodoh !”. perlu dicatat, bahwa tidak mengikuti angka tersebut bukan melulu dalam arti lebih lama lebih baik, tetapi bisa juga dalam arti jika proses penguasaanya atas sesuatu yang dipelajari dapat dilakukan lebih cepat adalah lebih baik.. kenapa ? karena waktu2 lainya bisa digunakan untuk menguasai/mempelajari ilmu2 yang lainya. :)

Sunday, January 05, 2014

Terintimidasi Galau #1



Galau,...weeww..., kata ini mungkin sebenarnya sudah dikenal dari kapan taun, atau bahkan mungkin lebih lama dari itu, tapi yang aku tau baru ngetren beberapa taun ini aja, belakangan ini aja, kata yang sedangf banyak digunakan untuk mengungkapkan kegundahan, unek2, dan perilaku diluar kenormalan akibat hati yang kacau..,

penyebabnya ? tentu saja bermacam-macam, tapi karena kebanyakan user dari kata ini adalah anak-anak muda, ABG alay-lebay,  masalahnya tidak lebih dan tidak jauh-jau dari hal : pasangan alias pacar alias gebetan, fall in love, broken heart, keluarga, sekolah, guru, pelajaran. ya ngga jauh-jauh dari itu.
galau itu,.. sebenarnya penyakit, penyakit "ketidaktenangan, ketidaktentraman hati" galau itu menunjukkan hati yang berkecamuk, tidak ada kedamaian, pemicunya tentu saja adalah nafsu, kurangnya ilmu dan pemahaman, kurangnya kedekatan dengan sang Rabb alias kurangnya ibadah, kurangnya dzikir, karena sudah sangat jelas bagi orang-orang yang beriman, obat hati yang paling mujarab adalah dengan ber-dzikir, mengingat Rabb-nya, merenungi makna dan tujuan hidupnya, maka disana akan kita temukan ketentraman, obat hati, obat galau..

Perihal galau ini, sebenarnya bisa menjangkit siapa saja, remaja muda, dewasa, ataupun tua, penyebabnya tentu saja bervariasi, kalau ABG seperti yang udah dijelaskan tadi, kalau agak dewasa mungkin lebih kearah serius, masalah pernikahan, keluarga, anak-anak, orang tua, pekerjaan.

Teruuusss..., kenapa setelah sekian lama aku baru menulis ini, kenapa aku membahas masalah galau.. ? whhyyyyyy..??penyebabnya jelas,. karena aku GALAU.. :D, karena aku galau makanya aku menulis ini.
kenapa aku galau.., Haaahhhhh,.. banyak sebenernya masalahnya, tapi sebagian besar adalah karena aku sendiri penyebabnya, karena aku serakah, karena aku kurang cermat, karena aku malas, karena aku....dan aku.., ya, pada akhirnya karena aku lebih banyak cenderung menyalahkan diriku sendiri... jujur aja, aku ini tipe orang yang tidak suka Blamming ? , menyelahkan orang lain , menyudutkan orang lain, mencari kambing hitam, alih-alih aku berusaha bertanggungjawab atas apa yang aku lakukan, apa yang aku perbuat, apa yang aku hasilkan, apa yang aku memiliki peran atas suatu keputusan, tindakan pada akhirnya aku juga yang menyalahkan diri sendiri, membodoh-bodohkan diri sendiri, kesal pada diri sendiri.

Aku.., yang bermimpi besar, tetapi timpang dalam ilmu, pengalaman, dan kesabaran. aku yang kadang mudah goyang, tersabotase oleh keputusan-keputusan spontan yang berlandaskan ketidaksabaran, seringkali membuatku muakk.., muakk pada diriku sendiri. aku yang seringkali tidak konsisten pada hal-hal detail.arrrghhhh.., aku bahkan tidak tau harus ngomong apa lagi.

Galau ini membuatku muakk.., membuatku tempramental.., galau ini membuatku berpikir,.. aku masih belum banyak berubah.., aku masih tidak lebih baik dari aku yang dulu, aku 10 tahun yang lalu. galau ini membuat aku sadar, aku perlu merestukturisasi hidupku.. lagi. Sekarang.

depan komputer, menjelang keberangkatan ke Madiun-Ponorogo, menganatar adikmu, Anita.