Thursday, January 01, 2015

Seri Mindset Bisnis : The Power of Context



Ada seorang teman saya yang pekerjaannya memproduksi Jilbab, yang menariknya adalah dalam sebulan, meski hanya jualan jilbab perolehan omset nya bisa mencapai 2Milyar sebulan. Saya tertarik untuk mencari tahu apa rahasianya...

Rupanya sangat sederhana cara bisnisnya, konon katanya dalam dunia Hijab, perputaran model fashion terjadi begitu cepat dan faktor yang men drive perubahan adalah model Jilbab yang dipakai oleh artis2 di sinetron televisi. Ketika sedang musim sinetron Catatan Hati seorang Istri, jilbab yang dipakai oleh artis dewi sandra laku keras, teman saya ini tinggal meniru model jilbab nya dan memberi nama JILBAB HANA.
Ketika sudah selesai masa jilbab hana, muncul lagi jilbab model lain berikutnya yang dipakai oleh artis lain di sinetron lain pula. Terkadang masalah yang dihadapinya ketika ada keterlambatan produksi dimana jilbab yang baru jadi produksi sudah kelewatah moment karena sudah ada model artis baru. Agghh.. Begitulah dunia wanita

Ada riset menarik yang dilakukan di Berkeley. Di asrama mahasiswa setiap gedung setiap lantai selalu ada kulkas yang bisa dipakai oleh semua mahasiswa, kulkas umum.
Periset menaruh 12 kaleng bir di beberapa kulkas. Ternyata dalam waktu 2 hari, hampir semua bir itu hilang habis diambil mahasiswa. Mereka mengambil bir yang bukan miliknya, dan tidak tau milik siapa. Di semua lokasi hampir selalu ludes habis.
Di kulkas yang sama, pada waktu yang berbeda, ditaruh uang kecil2, 1 dan 5 dollar-an, sejumlah 20 sampai 30 USD. Dilipat dijepit bibawah makanan atau barang tapi tetap terlihat, seolah2 milik orang yang ditaruh disana. Dibiarkan dalam 2 hari, ternyata uang itu tidak di”curi” mahasiswa dan tetap ada disana.
Hal ini menarik, karena mengambil satu kaleng bir, nilainya sama dengan 1 atau 2 dollar, tetapi mahasiswa merasa “normal2 saja” mengambil bir, tetapi tidak kalau mengambil uang. Mengambil uang adalah mencuri, mengambil bir adalah berbagi rejeki.
The power of context. Sesuatu yang sama akan “terasa” berbeda bila berada dalam bentuk yang lain.
Ada lagi riset tentang tiket dan uang. Kalau anda punya uang 500.000 rupiah, mau pergi menonton bioskop malam itu, ternyata dijalan uang anda jatuh hilang 50.000 rupiah, sehingga sisa 450.000, apakah anda akan tetap menonton malam itu? 95 persen bilang akan tetap menonton.
Sebaiknya kalau paginya anda telah beli tiket 50.000 rupiah, disaku anda masih ada 450.000 rupiah, dan sorenya tiket itu hilang, apakah tetap akan beli tiket lagi malam itu dan menonton? Nah ternyata 50% lebih orang akan membatalkan dan tidak jadi menonton. Padahal dalam kedua hal itu yang hilang adalah “sama”.
Dalam kehidupan bisnis, mencuri uang perusahaan dan korupsi sangat dianggap “hina”, tetapi datang terlambat kekantor (korupsi waktu), menaikkan laporan beaya perjalanan (mencuri uang), dianggap sangat lumrah dan biasa.
Hal ini juga dipakai untuk menjelaskan kejahatan kerah putih, dimana kalau sekedar merubah data perusahaan, kan tidak se “hina” mencopet atau mencuri atau merampok uang perusahaan?
The power of context. Memahami bahwa sesuatu hal akan menjadi lain kalau dikemas dan ditaruh dalam perspektip yang berbeda. Ini berguna untuk komunikasi, hubungan bisnis dan kehidupan sosial.
Selamat mencoba
Sharing JOS
Bang Fitra Jaya Saleh
Post a Comment