Skip to main content

Tentang Resolusi, Tentang Mati

Ini adalah hari kedua di tahun 2015, dan saya masih mau menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa yang kita sebut sebagai resolusi, yaa.. tentang hal-hal yang ingin kita capai, kita raih, kita rencanakan kedepannya di tahun ini. Tentunya semuanya mengarah pada hal yang kita harapkan akan dapat membuat hidup kita jadi lebih baik. Tulisan ini saya comot dari share nya salah satu brother JOS, mas beo gibran,..

Agak lebih panjang dari biasanya, mudah-mudahan ada isinya.

Judulnya : MATI UNTUK HIDUP

Biasanya di awal tahun seperti ini saya sibuk menulis catatan resolusi yang panjang dan asal-asalan. Tujuannya supaya bisa dipajang di tembok atau layar handphone. Atau sekadar penenang diri kalau saya punya target hidup untuk satu tahun ke depan, walaupun nyatanya sebatas formalitas. Entah karena alam bawah sadar saya sudah bosan ditipu target yang tidak sekeras itu diusahakan tercapai, atau hanya karena belum mood, saya belum menulis resolusi barang sebiji. Entah kenapa.

Yang saya pikirkan sejak kemarin, justru sekelebat bayangan kakek saya, saudara sebaya saya, teman lama saya, dan secarik kertas yang ditulis ayah saya dan ditempel di depan pintu kamar dulu di masa saya SD dan SMP. Ketiga hal ini dihubungkan oleh satu hal, suatu fenomena universal yang diyakini secara absolut oleh semua orang: mati. Ini hal yang jarang-jarang, tetapi beberapa hari ini saya dibayangi oleh pikiran tentang kematian. Entah dari mana.
Memikirkan tentang mati, di saat saya sedang berpikir tentang resolusi tahun 2015 rasanya sangatlah aneh, tidak seperti biasanya. Setiap menulis poin target tahun ini, tangan saya bergetar, karena dihadapkan dengan pertanyaan: jika ini adalah tahun terakhir saya, benarkah ini yang ingin saya lakukan dan capai? Beberapa kali saya hapus target yang sudah ditulis, karena hilang nilainya dihadapan pertanyaan tentang kematian.

Contohnya, saat saya menulis “Membeli Mobil” sebagai target tahun ini. Karena saya merasa sering bolak-balik keluar kota dan terhambat hujan di perjalanan, memiliki mobil nampaknya jadi pilihan yang berguna dan rasional. Setelah menulis target ini, saya dihadapi pertanyaan tadi, hingga saya berpikir: jika di tahun ini saya mati, benarkah sebuah kendaraan yang tidak akan saya bawa di makam, menjadi target yang layak saya kejar? Saya terdiam diri oleh pertanyaan yang saya lontarkan sendiri. Lalu saya menghapusnya dan mengganti dengan hal lain yang lebih bermakna daripada benda. Ini terjadi di setiap poin yang saya coba tulis. Di satu titik, saya tersadar bahwa resolusi yang saya targetkan kini benar-benar penuh daya, hanya karena saya mengingat mati sebelum menuliskannya. Alih-alih melanjutkan menuliskan tentang resolusi, sekarang saya justru berkontemplasi tentang mati sebagai kesatuan konsep yang berguna dalam hidup.

Kematian adalah sebuah konsep intelektual. Dalam sebuah pidato kelulusan di Stanford, Steve Jobs pernah menyampaikan hal yang sama persis dengan ini. Dia juga menyampaikan, bahwa mengingat kematian adalah alat terbaik untuk membantunya menentukan pilihan besar di kehidupan. Setiap harinya selama puluhan tahun, ia selalu bertanya ke cermin, “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do now?”.

Kematian, sebagai sebuah konsep berpikir, akan mampu mencerabut segala hal yang menahan kita saat hidup: kegagalan, kebanggaan, ekspektasi, harta. Kita akan sadar bahwa, dalam hidup, kita tidak akan kehilangan apa-apa, karena saat mati kita tidak akan membawa apa-apa. Yang tersisa di dunia hanyalah apa yang akan kita tinggalkan, dan setiap individu pasti hanya ingin meninggalkan kebaikan. Kematian mampu membantu kita memilah aktivitas apa yang akan kita tinggal, hingga kelak menyisakan residu kebermanfaatan. Kematian mampu menghantam segala ketakutan akan resiko kegagalan, dan kebanggaan berlebih akan pencapaian semu. Kematian mampu memperlihatkan kita tentang mana yang makna, dan mana yang fana. Maka, tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mengikuti kata hati, dan mengejar hal-hal yang paling bernilai melebihi diri dan materi. Kematian mengajarkan kita untuk melakukan hal yang terbaik dalam hidup, dalam setiap peluang yang ada.

Kematian adalah sebuah konsep emosional. Sebagai contoh, adalah salah satu bagian favorit saya yang ditulis Viktor Frankl di bukunya Man’s Search for Meaning. Dalam salah satu momen di tahanan kamp konsentrasi Nazi, saat para tahanan digiring di tengah kegelapan, di atas bebatuan, di angin yang beku, dan di hadapan wajah kematian, salah seorang dari mereka tetiba berbicara tentang istrinya. Hal ini memicu para tahanan lain untuk tersenyap, memikirkan tentang istri mereka masing-masing. Mang Viktor pun demikian. Ia terkenang wajah istrinya yang hangat, senyumnya yang manis, dan tatapannya yang lembut. Hatinya sekejap teriris, tapi juga tenang. Di hadapan mati, bukan siapa pejabat yang kita kenal yang nanti akan kita ingat, tapi siapa yang kita cinta dan mencintai kita.

Kematian menjadikan kita makhluk penuh haru, hingga mudah merasakan hal ini: jika hari ini kita mati, cukupkah kata cinta terucap untuk pasangan kita? Cukupkah bakti terurai untuk ayah ibu kita? Cukupkah pelajaran teralir untuk anak dan adik kita? Cukupkah hangat terbagi untuk sahabat kita? Bukan sekumpulan kartu nama yang kini jadi ada arti jika dikaitkan dengan mati, tetapi hubungan emosi. Maka, dalam getar, tak akan tega kita sedikitpun mengucap hal kasar kepada orang-orang yang kita sayangi dengan besar. Dan dihadapan mati, kata maaf dan kasih menjadi murah dan penuh arti. Di hadapan mati, hubungan manusia tidak hanya sekadar transaksi, tapi tentang siapa-siapa yang kelak akan kita tangisi. Kita akan membangun diri untuk menjadi orang yang kehadirannya disyukuri. Jika sebagai konsep intelektual kematian menjadikan kita bijak, maka, sebagai sebuah konsep emosional, mati menjadikan kita berbudi dan hangat.

Kematian adalah sebuah konsep spritual. Ini adalah hal yang paling mendalam. Jika kedua konsep tadi hanya membawa kita di dunia, kematian dalam konsep spiritual akan membuat kita berpikir tentang dampak terhadap kehidupan setelahnya. Kematian akan memecut ingatan kita tentang hadits Bukhari ini: “...karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanyalah amal perbuatan dan tidak ada hitungan. Dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan dan tidak ada amal.”

Kematian menjadi titik akhir kita hidup di dunia, sebagai satu-satunya garis waktu yang berisi kesempatan kita mengisinya dengan amalan yang kelak akan kita bawa. Maka, menghubungkan diri dengan kematian, akan dengan mudah mencetuskan kita akan pertanyaan: jika di menit ini kita mati, cukupkah kelak amalan ini menyelamatkan kita nanti? Atau justru kita akan menangisi banyaknya dosa dan lalai yang kita kerjakan? Mengingat mati yang beriring iman, adalah salah satu metode paling efektif untuk kita bisa benar-benar mengoptimalisasi setiap detik dan aktivitas menjadi ibadah yang memiliki nilai. Kematian menjadi pengingat, layaknya secarik kertas milik ayah saya yang ditempel di depan pintu dulu: “Alangkah banyaknya kuhabiskan waktu pagi dan petang untuk perbuatan tak berarti, sedang pada saat itu, kain kafanku sedang ditenun tanpa kusadari”.

Sebagai sebuah kesatuan konsep, dari sudut pandang manapun, kematian memang sangat berguna. Terlebih lagi, menjelaskan satu fakta tak terelakkan bahwa hidup adalah sebuah batas. Maka, secara intelektual, emosional, maupun spiritual, mengingat kematian mau tidak mau mendorong kita untuk menembus batasan itu. Bukan untuk bisa hidup selama-lamanya, tetapi untuk bisa membuat sesuatu yang akan bertahan selama-lamanya. Di resolusi tahun 2015 ini, mungkin kita bisa menggoreskan “ingat mati” sebagai salah satu target kita setiap hari. Karena, dengan mengingat mati, kita bisa benar-benar hidup.

Salam sayang,
Aa Ganteng | @gibranwow
cybreed.co.id | efishery.com
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…