Skip to main content

Dare to Dream



Siapa lagi yang akan percaya tentang mimpi kita, kalau diri kita sendiri saja sudah tidak percaya denganya. Itu adalah sebuah kalimat sederhana yang menohok, yang mengingatkan dan menyadarkan diri kita sendiri tentang betapa sangat amat pentingnya kita untuk tetap menjaga dan percaya dengan apa-apa yang kita impikan. Karena ketika diri kita sendiri sudah tidak dapat membayangkan dan tidak percaya dengan apa yang menjadi mimpi atau impian kita, maka, tamatlah sudah.
 Tanyakan kembali pada dirimu sendiri, apa mimpimu ?

Ketika rasa jenuh bercampur dengan kegalauan, ketidakjelasan, ketakutan, dan perasaan yang membuyarkan, tidak menenangkan muncul berbarengan, bersamaan, maka.. akan berakibat pada keterombang-ambingan, ketidakproduktifan, dan kekonyolan, ketidakpercayaan, dan serasa hopeless, saat itu tanyakan kembali apa mimpimu?, bukankan ini mimpimu ? tegaskan kembali tentang apa mimpimu, tentang sudah sejauh mana kamu melangkah, tentang sudah sebanyak apa kamu berkorban, tentang sudah sebesar apa kamu menanggung segala beban sehingga saat itu kamu berada di titik itu.
Bukankah dulu, ketika kamu baru masuk FEUI, kamu mengikuti sebuah lomba, senam jongkok, disana kamu menang dengan mencatat rekor senam jongkok terlama, apakah itu mudah ? tentu saja tidak, kamu sendiri masih ingat betul bagaimana kamu berjuan waktu itu, kamu ingat waktu itu tubuhmu sedang tidak fit, badanmu terasa hangat, mriang, tapi kamu paksakan untuk berpartisipasi ikut karena tergiur dengan reward hadiah dan juga ingin mencatat rekor sehingga bisa dikenal, ingatkah kamu ketika perlombaan itu dimulai, 5 menit pertama kamu sudah mulai capek dan serasa akan jatuh, berasa sudah tidak kuat dan teman-teman yang lain mulai ada yang menyerah, tapi kamu tetap tahan dan berkata, menyemangati diri sendiri, Ah.. Tanggung, segini sih belum apa-apa, kamu pernah merasakan yang lebih berat dari ini, ketika kamu melintasi gunung ciremai, lagipula kalau segini aja capek dan kamu mau menyerah.. dari awal nggak usah ikut sekalian.!

Kemudian saat 10 menit berjalan, kamu pun semakin merasa berat dan sangat capek, berasa ingin menyerah, banyak teman-teman lain yang juga sudah menyerah, kemudian kamu semangati diri kamu sendiri, ah.. baru segini belum apa-apa, lagian kalau kamu mau nyerah, kenapa nggak dari 5 menit yang lalu aja kamu nyerah, kenapa harus sekarang !??? bukanya 5 menit yang lalu juga kamu sudah kecapean ?? dan kamu pun terus melanjutkan..

15 menit kemudian, 20 menit kemudian 25 menit kemudian kamu masih memutuskan untuk bertahan dan berjuang, kamu terus menyemangati dalam dirimu dengan caran yang sama, semakin mantap bahwa kamu tidak akan menyerah, bahwa setiap kali kamu ingin menyerah kamu mengatakan dalam diri.. kenapa tidak dari 5 menit awal aja kamu menyerah, bukankan waktu itu kamu juga sudah kecapean, apa bedanya dengan sekarang ? sampai akhirnya hanya tersisa 3 peserta dan kamu yakin pasti akan berakhir, kamu ingat bagaimana keringat sudah bercucuran, fisikmu sudah hampir tidak bisa lagi untuk bekerjasama, otot-otot kakimu bergetar bahkan di ledek seperti ada handphone yang menyala, bergetar di saku, para penonton bersorak terus menyemangati dan ada beberapa diantaranya yang merasa kasihan dan memberikan minuman, tetapi kamu menolak sementara pesaingmu menerima, dan akhirnya waktu penentuan pun berakhir, 26 menit, kamu menang, karena kamu tidak minum dan tidak curang. Kamu menang...

Itulah perjuangan, itulah mimpi. Tidak mudah memang mewujudkan mimpi, perlu usaha keras dan sungguh-sungguh. Hanya orang-orang yang mau  bekerja keras dan mau bersungguh-sungguh yang bisa secara nyata mewujudkan mimpi-mimpinya, pada hakikatnya setiap orang bisa, tapi pada kenyataanya tidak setiap orang mampu melakukanya, banyak dari mereka kalah, banyak dari mereka menyerah, oleh karenanya ada istilah Winner dan Looser. Bukan karena meraka kalah bersaing tetapi karena mereka kalah oleh ketidakmampuan diri mereka sendiri dalam mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tinggal kamu pilih yang mana, menjadi winner-kah ? atau looser ?, menjadi orang yang mampu mewujudkan mimpi-mimpinya, atau yang menyerah pada mimpinya dan terpaksa berjalan menjalani mimpi orang lain.
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…