Skip to main content

Gunung Tilu, di desa itu aku di lahirkan

Kamu orang mana ? kamu aslinya mana ?

Sering kan di tanya orang, utamanya orang yang baru kenal ditengah-tengah obrolan setelah kenalan, tau sama tau nama masing-masing. Kamu orang mana ?, pertanyaan ini sederhana., dan buat aku..., mmm, sederhana juga sebenarnya, tapii..., ada tapinya neh.., tergantung sikon, alias situasi dan kondisi dan siapa orang yang bertanya, hehehehe..,

Lho kok bisa ??? yup.., bisa, apa seh yang gak bisa buat aku, kecuali beli cinta kamu..! #ngelantur.
Jadi., usut punya usut aku ini sebenarnya adalah seorang yang lahir blasteran, aku orang Indonesia Asli,.. asli semenjak negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, bahasa, agama ini berdiri dan memproklamirkan diri, menamakan dirinya sebagai INDONESIA, tapi aku juga blasteran., blasteran antar pulau dan antar suku,..hihihhiiii..

Pernah nggak liat iklan apa gitu, .. yang intinya mba-mba fotocopy nanain ke customer nya, “aslinya mana mas ?”.. terus di Jawab.. TEGAL..!, dengan logat khas jawa tegal ngapaknya. Naaah ..., aku kalau kebetulan yang nanya adalah orang jawa.., Ex-clude Jawa Barat.., maka aku jawab dengan jawaban yang sama kayak di iklan itu, TEGAL. Tapi kalau aku beneran, konteks pertanyaan dan jawabanya itu pas, asli orang mana, kalau yang di iklan itu kan nggelo.., orang di tanya dokumen yang asli-nya mana, eh di kira asalnya dari mana.

Aku di lahirkan di Tegal, bukan kotanya.., lebih tepatnya di dusun Gunung Tilu (blok Gn. Tilu), Desa Cintamanik (kelurahan Cintamanik), kecamatan bumijawa, kabupaten tegal. Aku di lahirkan disana.., di sebuah rumah khas jawa, yangterbuat dari kerangka kayu dan dinding bilik bambu, rumah sederhana, beraalaskan tanah, di desa yang sederhana yang mana dan bilamana pada waktu itu belum ada aliran listrik yang masuk. Desa ku ini berada di bawah kaki gunung slamet bagian barat. Masih termasuk daerah dataran agak tinggi, pegunungan, sehingga hawa udaranya juga sejuk.

Aku di lahirkan di sana, di gunung tilu, kenapa namanya gunung tili ?? mmm..., aku sendiri nda tau tuh, apakah mungkin undakan gunungnya ada tiga ? nggak tau juga, pernah penasaran dan pernah nanya juga seeh.., tapi nggak menemukan jawabanya alias nggak ada yang tau. Nggak aku temukan legenda apa yang menyebabkan desa itu dinamakan gunung tilu. Biasanya kan sebuah nama pasti ada asal-usulnya..., cerita di baliknya, tapi untuk desaku ini sampai saat ini belum aku temukan asal-usul namanya.

Oke .., mungkin aku akan lebih banyak cerita tentang desaku ini ya, judulnya aja udah tentang desaku tempat aku dilahirkan. Mata pencaharian orang-orang disini adalah bertani, biasa seperti masayarakat petani pada umumnya.., mereka bertani padi, itu yang paling banyak. Sebernarnya kalau di hitung-hitung.., tanah di wilayah ini termasuk wilayah yang kurang subur alias produktifitasnya rendah. Selain padi ada juga yang menanam singkong alias ketela pohon, terus jagung, cabai.., tapi nggak banyak. Nggak banyak tapi cukup untuk kebutuhan rumah tangga. Sejak aku kecil dan pernah hidup disana.., para pemuda disana sudah banyak yang merantau ke Jakarta, kebanyakan mereka adalah bekerja di sektor konstruksi *bahasa kerenya, alias jadi tukang bangunan, pekerja kasar, ada juga yang bekerja jadi tukang kebun, buruh toko matrial baik, sementara yang muda perempuan kebanyakan jadi pembantu atau kerja di toko-toko nya orang cina. Hampir semua pemuda disana pernah mengalami pergi merantau ke Jakarta. Mereka kalau ke jakarta itu bisa tahan lama, pulangnya bisa setahun sekali, alias pas waktu mau lebaran idul fitri aja tuh. Jadi orang-orang di desaku itu adalah salah satu peserta mudik setiap tahun dari jakarta.. hahahaha..

Belakangan profesinya sudah mulai cukup berkembang, ada yang berdagang, berbisnis-punya pabrik tahu, ada yang, ada yang jadi supir taksi, ada yang jadi pemborong , dll...

Uniknya di desaku itu adalah, sejahtera seh enggaak,, tapi kebanyakan orangya rama-ramah.., aku , kalau main kesana, dari dulu, selalu saja kalau lewat di mampirkan oleh para empunya rumah, “sini mampir..sini mampir”.., ntar kalau sudah mampir pasti di tawarin makan, jadi kalau setiap rumah di mampirin bisa-bisa makan terus tuh di setiap rumah, apa nggak kenyang ?? hehehe, itu beneran loh..., ya, jangan berharap menu makananya yang yahood. Special yak, tentu saja menu makananya juga sederhana. Keculai kalau lagi idul fitri, disana.., bisa di bilang “panasan” iya,.. tapi segi positifnya bikin kenyang iya juga, atau bisa juga disebut royal, jadi hampir setiap rumah atau patungan 2 sampai 3 keluarga motong satu kambing, coba bayangin ?? apa nggak kenyang tuh perut di isi daging kambing, di sate, di gule.., di apain aja dah. Yang jelas kalaupun di sate, nggak ada tuh yang namanya satenya mungil-mungil kayak sate madura di jakarta apalagi sate padang.., yang ada setengah tusuk itu paling juga bisa di bikin satu porsi sate padang.., kebayang kan banyaknya ??, kalau mau di lebay..kan seh.., muntah-muntah deh.., wong hampir setiap rumah nyembelih.

Didesaku itu dulu jalanya masih batu, belum aspal, belakangan ini saja aspal sudah masuk, tapi itupun nggak sampai ke ujungnya, tapi sekarang sudah di cor, itupun hasil dari gotong royong, sumbangan atas kesadaran bersama, dan saat ini listrik juga sudah masuk.

Di desaku itu, dulu kalau nggak ada beras atau kebetulan berasnya sudah habis.., nenek, “semong” aku biasa manggilnya akan memasak “Nasi” Jagung.., dulu aku nggak suka nasi jagung, soalnya rsanya pera, tepi sebenarnya enak, akunya aja yang nggak terbiasa. Banyak warga disini yang untuk tabunganya dengan cara melihara kambing. Jadi selain bertani mereka juga melihara kambing.

Dari segi pendidikan, dulu kebanyakan masih banyak yang untuk lulus SD saja nggak, kemudian naik , minimal SD, kemudian SMP dan saat ini yang sampai lulus kulia juga ada, termasuk aku !??? hehehe.., anggap saja seperti itu, aku salah satu pioneeer pendobrak lah yaaa disana, melakukan quantum leap.., lompatan jauh... dan menjadi contoh generasi beikutnya, meskipun belum ada yang berhasil melampaui seeh..., #jumawa.


Di desaku itu,.. ,masih banyak lagi cerita yang bisa aku sampaikan.., tapiii..., lain waktu aja kali yaa.., udah kebanyakan.. udah kepanjangan. Yang jelas.. itulah desaku.., Gunung Tilu, tempat aku di lahirkan. 
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…