Skip to main content

Membangun Bisnis adalah Membangun Kepercayaan

Membangun bisnis adalah membangun kepercayaan (trust).

Kalimat itu sebenarnya bukan hal yang asing di telingaku, aku pernah mendengar, pernah membaca, bahkan sering, bukan hanya sekali atau dua kali. Membangun bisnis adalah membangun kepercayaan.

Rasanya akan sangat susah jika kita ingin membangun bisnis tanpa ada kepercayaan. Percaya akan apa ? Macam-macam., bisa percaya pada produknya, kualitasnya, pelayanananya, orangnya, dan lain sebagainya tergantung pada jenis bisnisnya dan tergantung pada konteks hubunganya.

Bisnis perbankan misalnya, sebuah bank butuh kepercayaan konsumen untuk mau bersedia menaruh uangnya (saving), kepercayaan atas apa ? Bisa atas nilai jaminan keamanan atas uang yang mereka taruh, bisa jaminan keuntungan atau ombak hasil yang dapat mereka terima setiap periode nya, intinya ada kebutuhan "percaya" atas nilai apa yang di tawarkan. Begitupun ketika pihak bank ingin memberikan pinjaman, yang dia beli adalah kepercayaan juga dari pihak peminjam. Percaya bahwa peminjam mampu untuk mengembalikan pinjamannya, percaya bahwa peminjam mampu memeberikan balas jasa keuntungan kepada pihak bank. Kurang lebih seperti itulah..

Membangun bisnis adalah membangun kepercayaan. Ini adalah hal yang sangat mendasar, sangat basic tapi juga sangat penting untuk di pahami dan di ingat. Filosofi dasar ini bisa di jadikan guidance , panduan dalam proses kita membangun bisnis. Hal yang perlu diingat adalah ketika apa yang di namakan "trust" itu telah muncul dalam sebuah hubungan, dalam hal ini bisnis, maka segalanya akan menjadi terasa mudah, tidak merepotkan, lancar atau bahasa sederhananya adalah : bisa di atur..., begitulah kira2 tulisan singkat yang aku buat dalam rangka mengisi waktu menjelang tidur kali ini. Bukan untuk menggurui, lebih tepatnya untuk mengingatkan diri sendiri akan apa yang pernah aku pahami, aku baca, yang mana dan bilamana esok atau entar kadang bahkan seringkali terlupa.

Jakarta, 8 Ramadhan 1436 H, Juni 2015

Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…