Skip to main content

Tak akan menyerah, tak akan mengeluh, itu janjiku

Aku tak akan menyerah, aku tak akan mengeluh, itu janji ku. !



Menyerah pada apa ? Tentu saja bukan pada semua hal, bukan pada segala hal, tetapi pada tujuan, cita-cita yang ingin dan benar-benar ingin aku capai, ingin aku raih, ingin aku wujudkan.

I have determination.!

Aku tak akan mengorbankan mimpi dan menyerah pada keadaan. Aku akan menaklukan keadaan, aku akan menaklukan keadaan, menuju pada keadaan yang aku inginkan.

Setahun yang lalu, aku mengikuti satu program kewirausahaan yang di adakan oleh Bank Indonesia, program coaching yang di sediakan untuk para pengusaha muda khusunya yang bergerak di bidang agrobisnis untuk di persiapkan dalam rangka menghadapi era MEA 2015, masyarkat ekonomi asean. Singkat cerita dalam salah satu materi yang di sampaikan adalah tentang mental seorang juara (winner) vs mental seorang pecundang (looser). Disebutkan bahwa 3 diantara mental seorang looser adalah ;

B untuk Blame, alias suka menyalahkan, suka mencari-cari kesalahan tapi bukan untuk memperbaiki melainkan untuk mencari kambing hitam, alias kambing cemani, hehehhe.., ya, sikap suka menyalahkan adalah bukan sikap seorang ksatria, dalam pandangan orang yang seperti ini, semua orang bisa salah kecuali dia dan hanya dia, seolah-olah dia adalah seorang yang makshum, jauh dari kesalahan. Maka orang seperti ini masuk dalam kategori seorang pecundang, karena dia akan cenderung tak mau bertanggung jawab atau menerima konsekuensi dari suatu kesalahan yang terjadi.

E untuk Excuse, naaaah.. ini juga masih terkait dengan blame tadi, salah satu karakter seorang pecundang adalah suka membuat alasan, ya inilah ya itulah, karena ini lah, karena itu lah.., selalu ada saja alasan yang bisa di kemukakan, dia pandai tapi pandai dalam membuat alasan. Dia cerdas, tapi cerdas dalam mencari dan menemukan alasan. Istilahnya seribu satu alasan bisa dia dapatkan, maka tak ayal dan tak heran jika orang dengan karakter ini bisa di sebut atau di juluki dengan nama "manusia seribu alasan". Hehehe

D untuk Denial, karakter yang ketiga dari seorang looser adalah suka menyangkal, nggak kok.., nggak gini.., nggak gitu.., dia suka menyangkal, bahkan ketika dihadapkan dengan fakta yang sudah jelas2 ada di depan mata, dia masih saja bisa menyangkal, maka beruntunglah orang orang yang mau membuka mata dan hati nya untuk tidak suka menyangkal. *aposeh.. Sikap suka menyangkal ini berbahaya, karena secara secara frontal, langsung menutup otak kita untuk bisa melihat berbagai kemungkinan yang ada, otak kita dipaksa untuk menyatakan bahwa apa yang dilakukan sudah benar dan tak ada celah kesalahan. Maka segala kemungkinan lain yang datang, langsung tertolak.

C untuk Complaining, alias doyan dan suka mengeluh, suka berkeluh kesah. Terkait denga sikap mental suka mengeluh ini aku sudah pernah membuat tulisan sendiri, kalau nggak salah dalam tulisan karakter negatif orang indonesia.

Begitulah sharing kali ini, buat aku sendiri, aku sudah berjanji untuk tidak menyerah, tidak berputus asa dan tidak akan suka mengeluh, karena itulah jalan hidupku, kalau kata naruto mah.. itulah jalan ninja ku. Dan yang yang jelas, dikaitkan dengan beberapa karakter negatif diatas, aku sendiri lebih memilih untuk tidak mengadopsi karakter2 itu karena jujur saja, aku nggak mau dalam hidup yang sekali ini, harus menyandang sebuah gelar yang gak mengenakkan ; looser.!

Jumat, 9 ramadhan 1436 H. 2015

Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…