Pengen Nyantri (lagi)

Share:
my little sister
Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau kadang bilang Nanti di buang ke tegal. Yaaa.., namanya juga anak kecil kadang takut tapi karena gak pernah ada eksekusinya jadinya yaa, di pikir ah, paling becanda, gak mungkin lah.

Tapi ndilalah, aku lupa kejadian persisnya, pas kenaikan kelas 4 itu aku harus pindah, mungkin karena alasan satu dan lain hal, maka jadilah aku dan adikku pindah ke tegal. Disana aku hidup bareng serumah sama nenek, sementara ibu dan bapak merantau lagi ke jakarta. Waktu itu bapak menjadi mandor di beberpa proyek rumah tinggal, yaa, hitungannya adalah sebagai pemborong sebenernya.

Maka di mulailah kehidupanku di tegal, aktifitas rutinku adalah, sekolah SD berjalan kaki, naik turun bukit karena disana memang daerah pegunungan, kemudian pulang SD langsung berangkat ke madrasah Diniyah yang letaknya 3 kali lebih jauh dari SD, pulang sore, membantu nenek (semong aku manggilnya) mencari kayu di alas, ngangsu air di mata air terdekat, nyuci baju sendiri, ngurusin ayam, marmut karena aku memelihara marmut.

Tak sampai 1 tahun di tegal, cara aku mengaji sudah jauh lebih baik bahkan melesat jauh di depan teman2 disana. Aku selalu merasa panas, panasan, tidak mau kalah dan tak mau ketinggalan. Cara membaca Al quran ku Alhamdulillah lancar, tak ayal memang, sewaktu di cirebon aku sempat beberapa bulan di ajari privat oleh bibiku, yang kebetulan lulusan pesantren di tegal, jadi ketika aku belajar rasanya jauh lebih mudah. Bukan apa2, cara mengajar bibik itu bisa dikatakan galak, kereng bahasa lainya.

Sebelum lulus dari SD, ayahku sempat bilang kalau aku akan meneruskan pendidikan ke pondok pesantren gontor, entah aku sendiri sebenarnya belum tahu gontor itu seperti apa, tapi waktu itu aku begitu bersemangat, karena yang aku dengar gontor itu adalah sebuah pesantren yang besar dan mashur. Dan mulai saat itu mulailah tertanam harapan dalam hati bahwa setelah lulus SD aku akan ke gontor.

abdur @ gontor (bukan jontor yaak..! :D )


Qodarullah.., cita2ku untuk lanjut ke gontor tak pernah tercapai. Selepas SD aku kembali ke cirebon dan meneruskan sekolah SMP di sana. Alasanya klasik, masalah ekonomi, aku kurang beruntung. Disitu selesai sudah niatanku dan harapanku untuk masuk gontor, dah saya mah apa atuh, hanya bocah kecil yang belum bisa apa2, heeee. Tapi niatan ku untuk ngelmu di pesantren masih ada, maka sejak kelas satu dan 2, sambil sekolah di smp aku mondok di sebuah pesantren di plered. Nggak jauh memang tapi.., yang terpenting terpenuhi niat dan usahanya.

Setelah laamaaaaaaa banget, beberapa tahun berlalu,.. Kemudian sampailah pada waktunya aku berkesempatan untuk menyambungkan apa yang menjadi cita-citaku dulu,,,.. ke adikku yang paling kecil. Kali ini aku yang incharge, aku sebagai kakak pertama yang bertanggung jawab mencari informasi, mendaftarkan, membiayai, mengantar, menjemput dlsb proses adikku masuk ke gontor.., tujuanya hanya satu memberikan kesempatan pada adikku untuk mendapatkan tempat belajar yang baik, bukan hanya belajar agama, tapi belajar tentang hidup dan kehidupan, the way of life.

Dalam prosesnya, aku sering pulang pergi dan stay di gontor.., dan selama proses itu muncul kembali kerinduan akan keinginan ku dulu, kerinduan untuk bisa hidup belajar di satu lingkungan yang agamis, lingkungan kota santri.
Yaa.., aku pengen nyantri lagi, entah itu bisa terwujud atau nggak, tapi mungkin masih bisa, Insya Allah.., gak ada yang gak mungkin kalau kita niat dan nggak ada kata terlambat dalam hal belajar bukan !?. Yup..!

Post a Comment