Iri

Share:


Entah kenapa aku sungguh sangat merasa iri dengan sosok ini, aku tak kenal dia, aku tak tahu siapa dia, atau bagaimana dia, aku tidak tahu apapun tentang dia, hanya satu gambar yang menjelaskan dia adalah saudaraku, saudara jauh yang ada disana, saudara se Iman, se Islam. Aku tak tahu apakah dia masih hidup atau mungkin telah syahid.

Yang aku lihat, sorot matanya begitu tajam, tapi teduh,.. tak ada kemarahan atau arogansi dari mimiknya, dengan sebuah roket yang dia gendong di punggungnya. Yaa.., dialah pejuang (soldier of Islam), yang berjuang demi menegakkan kalimat Allah disana, yang menuntut keadilan, yang rela mengorbankan segala kenikmatan dunia demi satu keyakinan yang dia yakini kebenaranya. Itu yang membuatku iri teman.., bahkan aku menangis ketika menulis ini,.. why ? Apakah aku terlalu sensitif, bisa jadi, .. terlalu terbawa perasaan ? Bisa jadi.. tapi mungkin yang lebih mendekati benar adalah karena aku malu kawan,.. aku malu, benar2 malu. Itu yang membuatku menangis. Bayangkan saja, seketika ketika melihat sosok ini aku sekilas mereview apa yang sudah aku lakukan dan what the hell am I doing ? Sebagian besar waktu ku sepertinya lebih banyak digunakan untuk memikirkan dunia.. Masya Allah.., aku berkoar2 kepada diriku sendiri, apa yang aku lakukan ini adalah untuk kebaikanku dan kebaikan banyak orang dimasa depan. MASA DEPAN yang mana ? Apa kamu segitu yakinya masih memiliki jatah waktu yang panjang di masa depan, jika seandainya besok pagi kamu tiba2 di jemput, adakah kamu siap ?,. Jawabanya sangat jelas, aku belum siap. Kemudian aku menatap sosok itu, adakah dia siap.. sepertinya jawabnya sudah tidak perlu di pertanyakan lagi, dia tampak siap, siap untuk syahid.., karena jiwa raganya telah ia wakafkan untuk Allah, dia serahkan terserah bagaimana Allah memanggilnya. Subhanallah...

Sosok itu membuatku sangat iri,.. Bayangkan kawan.. aku bercita2 untuk menghafal 30 juz penuh Al qur'an.., tapi sampai hari ini.. masih jauh dari harapan. Ibadah ku pun masih kacau. Bayangkan teman, aku sudah paham bahwa Ilmu itu adalah nur, cahaya.. sedangkan maksiat itu adalah dosa, dan cahaya Allah tidak akan mungkin bercampur dengan dosa yang kotor,.. tapi kawan, lihatlah.. bagaimana aku terus saja menjalani hidup dengan penuh maksiat, dan dengan naifnya aku berharap nur cahaya itu akan datang. Bodoh... Bodoh bukan ?

Aku iri kawan, iri pada sosok yang tak aku kenal itu. Jika seandainya qodarulllah di negeri para bedebah ini terjadi kekacauan yang mengharuskan seorang muslim untuk berjihad,.. adakah aku siap ???, jawabanya bukan hanya di lidah kawan, tapi pada keyakinan apa dan seberapa besar keyakinan itu ada di dada. Adakah hati ini mampu untuk rela dan merelakan segala kenikmatan yang ada di depan mata demi sesuatu yang lebih mulia.. atau.. enggan terhadapnya.

Hati ini iri kawan,. Iri pada saudaraku itu. Pada keyakinannya, pada pilihan hidupnya, jalan yang dia tempuh untuk berjihad, pada keimananya dan pada ilmunya. Hati ini iri kawan,.. Iri sekaligus malu. Aku berharap aku bisa menjadi lebih baik dari ini, melakukan yang lebih baik dari ini, sesuatu yang mampu mendatangkan kemuliaan di dunia dan terutama di akhirat nanti, sesuatu yang bisa menjadi hujjah dan pemberat amal baik di hari perhitungan nanti. Aku berdo'a kepadaMu wahai Rabb ku,. Meminta yang terbaik, dengan menjadikan aku baik, meminta yang mulia dengan menjadikan aku layak atasnya. Aamiin.



Posted via Blogaway

Post a Comment