Skip to main content

Simply just say what you feel.!

Kamu tau beda karakter orang jawa sama orang sumatra ? salah satu diantara perbedaan karakter orang jawa dan sumatra adalah; orang jawa itu (termasuk sunda) Segen,. Nggak enakan, seneng mendem atau nyimpen roso,  sudut pandang positifnya sebenernya karakter mereka itu halus, nda mau menyakiti seseorang dengan kata-kata, karena dikatakan ucapan itu lebih tajam daripada pedang. Luka karena ucapan mungkin bisa di maafkan tapi nda bisa dilupakan, akan selalu ingat dan teringat, bisa menusuk, menghujam ke dalam lubuk hati yang paaaling dalem dan tersimpan didalam memory alam bawah sadar. Sementara sudut pandang negatifnya adalah,.. karakter ini munafik, palsu, fake, lain di mulut-lain dihati, mulut A , di hati bisa jadi B atau C, lain di muka,..lain di belakang, dan juga pendendam. TENTU SAJA.., ini bukan generalisasi, sekali lagi.. ini bukan Generalisasi atau sesuatu yang berlaku menyeluruh dan umum. Catet.!

Entah benar atau tidak,.. bisa jadi hanya sebuah jokes, lelucon yang nggak lucu,..makanya karakter ini katanya disimbolkan dengan Blankon yang dipakai orang jawa, ciri blankon yang menonjol adalah dibagian belakangnya ada gondoknya, apa itu namanya.., punuk, benjolan. Jadi itu menyimbolkan bahwa didepan seh biasa aja, tapi dibelakangnya., bisa jadi nggondok, marah, dendam. Karakter segen dan nggak enakan ini yang membuat orang jawa nda bisa ngomong blak-blakan, takut salah, salah ucap, takut menyakiti makanya sangat berhati-hati dalam memilih kata dan lebih banyak suka diam.

Sementara orang sumatra.., mereka ini lebih suka Blak-blakan.., kalau mereka nggak suka, berani mengatakan nggak suka, begitupun sebaliknya. Bahasanya tegas,.. lugas dan sederhana. Buat orang sesama sumatra.., tentu hal itu biasa saja, tapi buat orang jawa.., itu satu hal yang seringkali masih tidak mudah untuk diterima, makanya mereka akan lebih mudah tersinggung. Sudut pandang positifnya.., orang sumatra ini, they can say the truth.., gak munafik.., apa yang diucap.., itulah yang ada dihatinya. Mulut A, dihatinya juga A, dibelakang dia nggak suka, didepan dia berani bilang gak suka. Mereka juga lebih suka orang mengatakan langsung didepanya kalau mereka nggak suka atau kalau dirasa dia melakukan kesalahan daripada harus mendengar dari orang lain which is berarti ngomongnya di belakang. Sudut pandang negatifnya..mereka ni bahasanya agak kasar,.. keras dan kurang bisa menjaga perasaan orang lain. Sekali lagi.., ini bukan generalisasi.

AKU...

Sekarang tentang aku, siapa aku ?

Aku adalah seorang jawa..,tulen, full, 100%,  yang dibesarkan di tanah jawa dan dengan gaya hidup, lingkungan serta budaya jawa. Paling tidak sampai 21 tahun lamanya ide dan keyakinan itu melekat dikepalaku. Sampai pada akhirnya hanya dalam hitungan menit atau detik ? Allah membalikkan fakta hidup dan kehidupanku, dalam tempo sekejap, dan memberikan efek Shocking, bahwa aku adalah keturunan Jawa + Sumatra. Separuh darahku Jawa dan separuhnya Sumatra, Aku seorang samosir,.. Aku seorang Batak, aku memiliki marga.., meskipun tak pernah sampai saat ini aku menggunakanya. Ya,.. aku memiliki darah jawa dan sumatra. Cerita bagian ini ada dalam tulisan lain.. maybe next time.

Sebagai orang jawa aku paham betul dengan karakter-karakter yang sudah aku jelaskan di paragraf pertama, tapi dalam prosesnya aku sendiri menyadari ada anomali.., masuk ke ranah remaja dan dewasa.., aku adalah seorang yang lugas, blak-blakkan.., terutama dalam hal berbicara, bertanya, menyampaikan pendapat, menyampaikan rasa, jujur apa adanya. Satu karakter yang kemudian pada akhirnya baru aku sadari.., darah sumatera ku ternyata lebih kental dari darah jawa. Selain sifat-sifat lain seperti keras kapala, batu, susah diatur dsb. Tapi semakin aku mendalami karakter2ku itu.. aku juga menyadari bahwa, sifat jawaku pun masih ada, seperti halus, lembut rasa (nggak tegaan) pun aku masih punya. Jadi semacam ada kombinasi karakter jawa-sumatra yang tertanam, terprogram dalam DNA seorang aku. Tak banyak orang tau tentang aku.., buat teman2ku orang jawa tidak pernah mereka akan mengira, mereka hanya tahu aku adalah orang tegal atau cirebon, wich is Jawa.., hanya jawa. Tapi buat orang sumatra.., sekali mereka berkenalan., biasanya akan langsung tahu dari raut muka dan karakter aku berbicara.., kamu orang kito kata mereka,.. kalau aku bilang aku jawa..! mereka hanya akan tertawa dan bilang nggak mungkin kamu orang jawa.

Say what you wanna say.. say what you feel.!

Orang sepertiku, yang berdarah sumatra lebih menyukai ketegasan, sesuatu yang lugas, jelas, clear, simple. Ketika aku memiliki perasaan dan nembak seseorang misalnya, aku tidak merasa sungkan untuk mengatakan, mengungkapkan, meng-ekspresikan apa yang aku rasakan secara langsung. Simply I will say what i feel. Apapun jawabanya,. Simply aku bisa menerima,. Tapi aku lebih suka jawaban yang lugas, tegas, sederhana dan jujur. Orang sumatra itu nggak suka dibohongi, pastinya seh semua orang gak hanya sumatra nggak akan suka, tapi dalam hal ini reaksi dan level penerimaanya yang berbeda. No is No, yes is yes,. Nggak- Nggak.., iya-iya,. Bukan iya yang nggak-nggak. Dan orang seperti aku lebih menghargai jawaban yang seperti itu, bukan jawaban yang muter-muter, mlintir-mlintir,bikin pusing. Sebagai orang jawa saya bisa ngerti, tapi sebagai orang sumatra, saya nggak bisa nerima. Seringkali kepikir, apa susahnya seh ngomong blak-blakan.., saya kira kita sudah cukup dewasa untuk menerima jawaban apapun yang mana itu adalah fakta, sudah cukup dewasa untuk menerima kritik, cukup dewasa untuk menerima koreksi,  dan sudah cukup dewasa untuk menjadi orang yang berani mengatakan (Speak Up) apa yang kita rasa.

Nggak ada yang salah berkata jujur, nggak ada yang salah mengatakan apa yang kita rasakan. Bukankah hidup hanya sekali, *wink
So.., Be Brave..!, Don’t be a coward.!
Jangan jadi pengecut.! Say what you wanna say.. say what you feel.!
Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…