Skip to main content

Al mahfudzot #1 , Ceritaku Naik Gunung

Pernah dengar kalimat : Man Jadda wajada ?? yang pada tahun-tahun kemarin cukup menggelegar #lebay, dan sering terdengar di telinga karena kalimat itu yang benar-benar di angkat dalam sebuah film karya anak bangsa yang berjudul Negeri 5 menara. Yup, kalimat itu adalah salah satu mahfudzot.

Apa itu mahfudzot ?? mm..., kurang lebihnya mahfudzot adalah kalimat atau kata-kata mutiara, petuah berharga, kalimat penuh hikmah. Ini adalah istilah dalam Bahasa Arab’ atau juga biasa disebut dengan Muqtathafat, Syair dan lain-lain. Mahfudzot ini diambil dari Al Qur’anul Karim, Al Hadits, Atsar Sahabat Nabi dan Nasehat serta Irsyadat para ulama salaf dan kholaf, serta merupakan salah-satu pelajaran yang bertujuan memberikan motivasi untuk hidup sukses dan juga memperindah kemampuan Bahasa Arab santri di pondok pesantren manapun. Ada banyak sekali kata-kata mutiara, biasanya lembaga pendidikan menyeleksi untuk diajarkan dan ditanamkan ke dalam jiwa anak didiknya sebagai bekal mereka kelak, di negara-negara eropa biasa diajarkan wiseword dari filosof dan seniman eropa, yunani atau romawi. Di daratan cina juga tak kalah banyaknya kata-kata mutiara dari filosof cina, dan tentunya dari arab banyak juga kata-kata mutiara dari para filosof dan ulama’ muslim.

Aku mulai mengenal istilah mahfudzot ini ketika aku sering bolak-balik ke GONTOR, Ponorogo. Dan memang sebagaimana yang diangkat dalam film itu, yang latar dan lakonya adalah santri dari pondok pesantren di gontor, FYI aja ya, sebenarnya gontor sendiri bukan nama pesantrenya tetapi nama salah satu desa di wilayah itu, tempat keberadaan Sang Kyai, Trimurti mendirikan pesantren-nya, cuma orang kebanyakan lebih mengenalnya gontor, jadilah muncul istilah ponpes gontor.
Sudah pernah aku ceritakan dalam tulisan sebelumnya bahwa, ponpes ini adalah dulunya tujuan aku ingin masuk, tapi,, gagal, bukan gagal seeh.., lebih tepatnya belum sempat mencoba masuk,heheheh.. ah sudahlah.

Balik lagi ke mahfudzot, ketika aku bolak-balik itu, menjenguk adikku, sambil nunggu di asrama untuk keluarga yang menjenguk, aku suka penasaran pelajaran apa saja yang di berikan dalam sistem KMI yang menjadi standar pengajaran di ponpes ini. Dan salah satu mata pelajaran dalam kurikulum KMI itu adalah tentang mahfudzot, mereka para santri harus menghafalkan. Yang aku lihat, sebagaimana kebanyakan pelajar masih muda, menghafal mahfudzot ini masih menjadi semacam beban, tapi dari sudut pandang aku, woww..., ini bagus banget..! ini tentang prinsip-prinsip dan pelajaran hidup, maka aku kumpulkan dan coba aku hafal juga, nggak langsung semuanya.., bertahap, sambil aku resapi dan aku jadikan prinsip-prinsip dalam menjalani hidup.

Mahfoudzot #1

Kata-kata mutiara bagian pertama yang diajarkan adalah :

مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
“Siapa berjalan pada jalannya sampai”

Kurang  lebih seperti itu, bahwa Setiap orang, siapapun itu, ketika memiliki tujuan, dan dia berjalan di jalan yang akan membawanya pada tujuan itu, maka akan sampailah dia pada tujuanya, sangat sederhana bukan ? bukaaan..

Misalnya, aku ni sekarang lagi di jakarta, aku mau jalan menuju ke bandung, jakarta ke bandung itu ada jalanya, mau naik apa aja terserah, yang jelas dan yang pasti sudah ada jalanya. Nah .. jika aku berjalan menuju bandung melalui jalan yang aku tahu arahnya adalah ke bandung, maka selambat apapun aku berjalan, Niscaya, Insya Allah akan sampai juga ke Bandung. Bagaimana jika aku jalanya itu kearah yang tidak menyampaikan aku ke bandung, ke cirebon misalnya.., ya nggak akan sampai.., Fahimnaa ??? J

Kalau mau ke bandung, ya jalanlah di jalan yang akan menghantarkan kita ke bandung, kalau mau ke jogja, ya berjalanlah lelalui jalan yang akan menghantarkan kita ke jogja, kalau mau sukses, ya berjalanlah di jalan yang akan menghantarkan kita  pada sukses kalau, mau ke syurga.. ya berjalanlah di jalan yang akan menghantarkan kita ke syurga, jangan sebaliknya..., nanti nyasar,  gampang to ??? gampaaang...

Terkait dengan jalan dan perjalanan, ada pepatah kuno, kata-kata mutiara dari cina nih broo, pasti kamu sudah tau juga :

“ perjalanan sejauh 1000 mil, dimulai dari 1 langkah”

Artinya, seberapa panjangnya pun perjalanan yang harus kita lewati, tetap saja harus ada langkah pertama, gitu loh...,

Mahfudzot ini di ajarkan dan di taruh diawal, saya pikir memang untuk memotivasi pelajar, santri bahwa perjalanan mereka dalam proses belajar adalah masih panjang dan mungkin berat, tetapi mereka di beritahu bawha, selama mereka punya tujuan yang jelas dan mereka berjalan pada jalan yang akan mengarahkan mereka pada tujuan itu, maka pasti akan sampai mereka pada tujuanya.
Sangat disayangkan, petuah-petuah hidup yang berharga seperti ini tidak di pelajari dalam kurikulum pendidikan formal, nasional. Padahal.. jika ini di tanamkan, maka ini bisa menjadi landasan mental yang sangat baik bagi putra-putri generasi penerus Indonesia, menurutku...,

Oke.., lalu apa kaitanya dengan aku naik gunung.. ?

Beberapa minggu lalu aku naik gunung Merbabu, di jawa tengah, deket atau lebih tepatnya sebelahan sama gunung merapi. Aku memang dari dulu biasa dan senang naik gunung, jadi ini bukan kali pertama aku naik gunung, tapi ini kali pertama aku naik gunung merbabu. Dalam proses naik gunung pemirsa.., kita saat masih berada di bawah, di kaki gunung, kita suah menentukan dan memiliki tujuan yang jelas, kita naik sampai puncak.!, diantara aku berdiri di basecamp pertama dan puncak yang menjadi tujuanku ada jalan yang menghubungkan, sederhananya, untuk sampai ke puncak aku cukup berusaha berjalan melewati, menulusuri, menguti jalan itu saja, entah itu cepat atau lambat, selama jalan itu tujuanya benar, maka pasti akan sampai.

Bagaimana kalau aku di tengah jalan nyari jalan lain, .. yaa. Selama aku yakin dan punya pengetahuan bahwa jalan lain ini masih tetap mengarah ke tujuan yang aku capai, pasti sampai juga, istilahnya banyak jalan menuju puncak, inti pesan-nya masih sama, jalan yang di lewati arahnya harus benar mengarah pada tujuanya.

Itu ajah,.. cerita aku naik gunungnya gak banyak kok, ini domain-nya lebih banyak tentang pesan dari mahfudzot-nya.., semoga bermanfaat yaaa.., aamiin.


Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…