Skip to main content

Negeri Amanat Para Raja


Ada seorang raja yang yang telah sepuh, munghuni tanah jawa, berkuasa meski tanpa tahta, tinggi dan disegani meski tak banyak yang mengenal, tapi dia yang mengatur, yang memegang kendali, yang memutuskan untuk jadi atau tidak menjadikan peristiwa-peristiwa yang besar, bukan hanya di negeri yang bernama Indonesia, tapi juga dunia.

Apakah benar dia ada ?? atau hanya mitos belaka. Jika benar dia ada kenapa tidak pernah menampakkan wujudnya, kenapa tidak mau dikenal ?? lalu siapa sajakah yang mengetahui jati dirinya, keberadaanya ?? sekelompok orang yang terpilihkah ? apakah dia bersembunyi atau disembunyikan ?? jika bersembunyi, kenapa ? jika disembunyikan, kenapa juga ?? jika hanya mitos, kenapa tak semua atau tak banyak orang yang tau ??

Indonesia ini JAWA.., rasis ya.., tapi memang begitu adanya.., gagasan indonesia datang dari petinggi, raja-raja jawa, yang memang menjadi pusatnya. Indonesia ini negeri taruhan, Indonesia ini negeri boneka, Indoneia ini negeri yang di adakan untuk mengukuhkan tetap eksistnya kekuasaan lama, the Old Emperor. Indonesia ini negeri Ajaib. 5 tahun berdiri setelah mengumandangkan kata “MERDEKA” , sudah memiliki teknologi persenjataan canggih, yang terkuat di asia tenggara, bahkan di takuti Australia.., terkuat, 5 tahun , DUIT darimanaaa ??????? lihat saja Timor Leste.., Can u imagine that ??

Sekali lagi, Indonesia adalah negeri para raja.

Pemegang kekuasaan negeri yang bernama Indonesia ini boleh saja berganti-ganti, tapi satu yang pasti, yang berkuasa ya sebenernya dari kalangan mereka-mereka saja.

350 tahun, orang-orang berkulit putih yang datang dari negeri miskin dan kere itu ada disini.., dinegri yang kaya raya ini, apakah mereka menjajah ???? NOOO..! it’s a big NOO.!  If this country is a corporation, they are just like board of directors.., yang diperintah untuk mengelola dan mengembangkan aset-aset berharga yang ada di negeri ini, negeri para raja, mereka tak lebih dari management yang di percaya untuk mengelola aset negeri ini.

Diceritakan sang raja rupanya sudah bosan dengan manajemen yang lama, dia ingin negeri ini dikelola olah orang-orang kita sendiri, orang-orang pribumi, maka secara bertahap dan perlahan dididiklah orang-orang pribumi untuk belajar ke negeri-negeri mereka, orang-orang cerdas, orang-orang pilihan. Sampai pada waktunya, sang raja melihat ni.., board of directors udah siap, tapi masyarakat di negeri ini belum siap, maka sepertinya pelu EO (Event Organizer) untuk menggembleng secara keras agar muncul kesadaran dan kesiapan masyarakat negeri pribumi ini untuk mau bangkit dan mampu mengelola asset-asset para raja. Maka di panggillah EO dari negeri sakura, NIPPON namanya. Dia di sewa untuk kurun waktu yang sangat singkat, 3,5 tahun untuk merekonstruksi mental masyarakat negeri ini agar muncul kesadaran dan kesiapan. Setelah 3,5 tahun masa kontrak selesai, maka di buatlah negeri korporasi yang bernama Indonesia.

Negeri ini berdiri.. negeri amanat para raja

Negeri yang berdiri untuk mengelola asset para raja.

Sang Raja masih ada, di ada di Jakarta, kenapa di Jakarta ?? entahlaah.., aku tak tau apa sebabnya. Keberadaanya tak banyak yang tahu, tapi yang tahu pun tak akan mau memberitahu. Sang Raja sudah tua pastinya, dia hidup, menyamar dan dikenal oleh orang seperti yang dia suka. Orang lebih banyak mengenalnya sebagai sang dokter. Dia masih ada, dan di jaga,.. di sekitarnya ada para intel yang menjaga, disekitarnya ada CIA yang menjaga.., loh.., kenapa CIA,.. ah kau ini, seperti tak tahu mereka saja. Cara hidup sang raja ini sangat arif dan bijaksana, kehendaknya adalah titah untuk para penguasa. Asset sang raja ada dimana-mana, rothschild, rockefeller.., ah., itu hanya salah satu pengelolanya. Papua, freeport.., itu hanya lahan yang memang sengaja diberikan sang raja atas “kebaikanya” mempermudah sang pengelola untuk membayar hutangnya pada sang raja, kalau tak begitu, bagaimana dia mampu membayar hutang-hutangnya ???
Indonesia, negeri amanat para raja.

Perang dunia berkecamuk, eropa di obrak-abrik, jepang di luluh lantakkan, kerajaan jawa., ah aman-aman saja.

32 tahun, negeri ini di atur dalam kerangka yang ketat, kemudian beberapa orang bergolak, orang-orang yang bosan berada di “bawah” dan ingin naik di tataran manajemen atas pengelola negeri ini, dengan konsep “reformasi”nya di menggubah , menggelorakan semangat perubahan, DEMOKRASI.., demokrasi yang bebas dan sebebas-bebasnya,... demi kepentingan mereka. Rakyat yang kebanyakan belum dewasa, ikut menggelora,

Selain karena sudah bosan dengan manajemen yang lama, juga karena ingin memberikan “pelajaran” tentang apa itu arti kebesan, demokrasi, maka sang raja bertitah,.. “Gantilah..!”
Maka bergantilah rezim di negeri amanat para raja.

Tak akan lama.., paling 15 – 20 tahun, katanya.., cukup pelajaranya. Masyarakat akan sadar, ini loh rasanya demokrasi yang kalian idam-idamkan.., begini loh. Saking ngroso, akan muncul kesadaran. Tapi semuanya memang sudah diatur.

Buat sang raja, dunia (harta, kekuasaan dan segala isinya) bukan lagi hal yang istimewa, tak lagi menarik. Tapi sebenernya kita juga, orang Islam di ajarkan tentang itu, tentang bagaimana kita seharusnya fokus pada sesuatu yang lebih berharga.., bukan dunia. Bahkan saking tak berharganya dunia, Allah swt menegaskan melalui lidah Rasulnya, dalam salah satu hadits;

 Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua raka’at Shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” [HR. Muslim] dalam riwayat lain dengan lafazh: “Sungguh kedua raka’at tersebut lebih aku cintai daripada dunia semuanya.”

Ya, kedudukan dunia, nilai dunia tak lebih baik dari kita mengerjakan 2 rakaat shalat fajar, sebelum sholat subuh..,

Dan saat ini, negeri ini masih saja bergejolak, sang Raja sepertinya masih dalam ketetapan titahnya, ingin memberikan pelajaran kepada masyarakat negeri amanat para raja. Entah sampai kapan...,

Aku ingin bertemu sang raja,.. mau apa ?? entahlah.., hanya ingin bertemu, mungkin ada pelajaran hidup yang bisa aku dapatkan, Semoga hal itu baik, dan semoga tak akan lama.



Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…