Skip to main content

Tetaplah baik, jadilah lebih baik, dan (terus) tebarkanlah kebaikan



Ini bukan sekedar slogan, ini adalah prinsip hidup. Kata kuncinya adalah “BAIK”, apa itu baik, bagamana kamu bisa mengatakan, menilai bahwa ini baik dan itu tidak baik atau kurang baik ? bagaimana ??? How ????? tell me, please tell me..!! please.. I beg you.....!! pleaaseee... :D

Cih,..Nggak usah lebay gitu deeh...,

Ehm, begini saudara dan saudari, terutama kamu abdur...!, oi.. abdur.., iya kamu...!! dengerin.!
Bagaimana kamu menilai ? disini kita bisa perhatikan ada satu suku kata penting : Nilai , nilai menunjukan adanya ukuran, entah itu berupa angka (numerik) atau lainya seperti plus, minus, standar, dan semacamnya laah....

Dikatakan, katanyaaa,, ini katanya loh ya,. You can’t manage if you can’t measure.., mmmm.. *tik tok tik tok... kayaknya, itu beda konteks deh, ahahahah.., maap-maap-maap..

Ya, untuk bisa menilai, kita harus punya nilai dan ukuran (standar ukuran), dan alat ukur. Maka dalam konteks BAIK pun demikian adanya, harus punya nilai, ukuran dan alat ukur.

Ketika seseorang mengatakan, abdur, jadilah orang yang baik.!, sekilas mungkin semua orang bisa paham apa dan bagaimana jadi orang yang baik, tetapi.., kalu disuruh menjabarkan apa itu baik ?? bisa jadi akan bingung dan kebingungan, yang di tandai dengan kalimat, yaa baik, .. ya gitu.., baik.., apaan seeeh..., ! gak jelas kan.

Kalau kita punya nilai, ukuran dan alat ukur, maka akan lebih mudah mendefinisikan apa itu baik. Misal, katanya semua agama pada intinya mengajarkan kebaikan, betul ???, yang saya pahami adalah kalimat ini mengacu kepada nilai-nilai yang sifatnya UNIVERSAL, seperti : Jujur, rendah hati, tidak angkuh, tidak sombong, menghormati orang lain, setia, hidup rukun, saling menghargai, harmoni dan lain sebagainya, Tetapi saudara, kenyataanya adalah setiap agama tidak hanya mengajarkan nilai2 universal itu saja, tetapi juga mengajarkan konsep tentang eksistensi, eksistensi Tuhan, eksistensi kita dan alam semesta, bagaimana awal kejadianya, bagaimana kita berinteraksi denganNYa, dan sebagainya, yang mana dan bilamana semua itu memiliki konsekuensi menjadi nilai, ukuran dan sekaligus alat ukur terhadap kita saat berperilaku, saat berinteraksi sehingga atas dasar semua itu kita masuk dalam kategori BAIK atau tidak BAIK,keduanya, kita as a human being dan apa yang kita lakukan, karena pada dasarnya penilaian terhadap kita tak lepas dari penilaian pada apa yang kita lakukan, karena kenyataanya kita terikat dengan apa yang kita lakukan.  

Kamu ngomong apa seh duuur.., pusing akuuu..,

Eheheheheh.. Ya urusanmu, bukan urusanku..! :P

BAIK..,

Jujur, itu baik.., kata siapa ?? kata agamaku, kata agama yang lain juga, Terlalu Jujur ?? , mm... baik gak ?  haiooo...,
Senyum , itu baik.. senyum-senyum sendirii ??? nah loo... 
Shalat.., itu baik.. kata siapa ?? kata agamaku, tapi tak baik kata temenku yang nasrani , kenapa ?? karena tidak ada ajaran shalat di sana.
Tidur , itu baik.., kata siapa ? kata agamaku, kata ahli kesehatan, karena tidur adalah untuk kesehatan, recharge energi, istirahat. Kebanyakan tidur ??  nah loo...,
Berbakti pada orang tua , itu baik , kata siapa ? kata agamaku.,
Sopan , santun.., itu baik,..
Mencuri.. itu tidak baik.. mencuri hati ??? nah looo...
Makan daging babi, minum minuman ber alkohol, khamr, itu tak baik.., kata siapa ? agamaku, tapi biasa aja menurut agama temenku,.. nasrani,..
Manggil orang tua atau orang yang lebih tua dengan namanya, itu tak baik.., menurut siapa ? adat istiadatku, agamaku, tapi biasa aja menurut adat yang lain.. orang barat
Makan dan minum sambil berdiri, tak baik... menurut siapa ? agamaku, tapi biasa aja , wajar menurut adat yang lain , orang barat lagi.
Bersedekah.. baik, bersedekah karena dipaksa, atau karena biar dianggap dermawan ??
Belajar,.. baik, belajar ilmu hitam, belajar mencopet, belajar mencuri.., mecuri hati.??, # abduur
Olahraga,..baik.. sedikit olahraga ???
Bersilaturahiiimm.., itu baik, bersilaturahiimmm kelamaan ???
Makan , itu baik.., makan kebanyakan ???
Mium obat,.. itu baik.., minum obat tikus ??

Dan lain sebagainya.. dan lain sebagainya. Btw.. lucu-lucu yah contohnya.., NGGAK..! :D

Dari contoh-contoh yang agak nyleneh itu, point  utamanya adalah : bahwa kata BAIK itu harus ada definisinya : Baik menurut siapa..?? atau menurut apa ??

Karena ini adalah prinsip hidup, maka biasanya yang namanya prinsip itu bersumber dari sesuatu yang kita yakini kebenaranya.., betul kan..?? jadi inget salah satu dialog di film, ituh., KCB hahaha..

Ketika aku mangatakan JADILAH BAIK, jujur neh.., aku mendefinisikanya menurut pemahaman yang aku dapat dari sumber yang aku yakini kebenarnya, ajaran agamaku, ISLAM. Artiya definisi, ukuran baik-nya di dasarkan, dilandaskan dari sari-sari ajaran ISLAM, ajaran tentang bagaimana kita hidup dan menjalani hidup, bukan dari yang selain-nya, itu yang menjadi acuan, ukuran.

Jadilah baik, maka jadilah orang yang hidupnya berpegang teguh dan menjalankan apa yang di ajarkan oleh ISLAM, baik itu yang di perintahkan, ataupun yang dilarang, teruslah menjadi baik.. artinya banyak sekali ajaran kebaikan dalam Islam termasuk di dalamnya nilai-nilai universal yang dikatakan setiap agama mengajarkanya, yang ujungnya sebenernya adalah demi kemaslahatan diri (si orang yang mengamalkan) dan banyak orang, yang seyogyanya bisa kita amalkan semuanya, tetapi.. karena kita memiliki keterbatasa-keterbatasan, maka.. pelajarilah secara perlahan, bertahap, amalkan secara perlahan, bertahap, yang memungkinkan setiap hari selalu saja ada yang baru, yang lebih baik dan lebih sempurna dari apa2 yang kita pelajari dan kita amalkan itu. Dan tebarkan kebaikan, ini adalah syiar, dengan kita melakukan kebaikan, kita mengamalkan apa yang kita yakini kebenaranya, maka akan tercermin, akan nampak dan dapat dilihat keindahanya oleh orang lain sehingga, jika Allah menghendaki, atas sebab itu orang-orang akan tertarik ikut mengamalkanya, dan akan tersebarlah kebaikan, syiar ISLAM kepada lebih banyak orang.

Itu..!!


Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…