Skip to main content

Ini Tulisanku

Aku duduk di depan laptop sambil memikirkan apa yang ingin aku tulis, lembar worksheet sudah aku buka, satu file word sudah aku buat, lembaran putih yang terbentang dilayar depan mukaku seolah sedang menantang kecerdasan dan imajinasiku, untuk mengisinya dengan tulisan, karangan, apapun itu, seolah dia sedang menggoda dan mengatakan : “ayo tulis ceritamu, ayo isi aku dengan semua karangan yang ada di dalam kepalamu, ayo isi aku dengan apapun ide-ide yang pop-up dalam kepalamu, ayolaaah.., come on, don’t be lazy”.

Begitulah kira-kira awal dari cerita yang ingin aku tulis dalam karangan ini. Satu hal yang aku tahu, sebenarnya aku tidak kekurangan ide, justru sebaliknya, ada banyak sekali ide yang muncul di kepalaku, hanya saja masalah utamanya adalah aku tidak tahu harus mulai menuangkanya dari mana dan bagaimana. Maka aku berinisiatif untuk menulis saja lebih dulu, menuliskan apa yang ingin aku tulis, meskipun ketika nanti aku baca ulang aku tidak yakin apakah tulisanku itu cukup menarik untuk di baca, hahahaha..

Aku sering heran, bahwa kenyataan didunia ini ada orang-orang yang mampu menuangkan apa yang dipikirkanya kedalam bentuk tulisan sampai berlembar-lembar, berbuku-buku bahkan berjilid-jilid buku, entah itu karangan yang sifatnya fiksi, khayalan, imajinasi ataupun ilmu pengetahuan, untuk orang-orang itu saya hanya bisa mengungkapkan : WOW..., you are really amazing. SALUT !!

Dan yang lebih amazing lagi adalah, ketika menyimak karya-karya orang zaman dulu, para scholar Islam, yang telah menghasilkan karya begitu amat sangat banyak,.. itu,.. mereka tulis secara perlahan, menggunakan pena tinta yang tul-tul gituh, kayak yang di film-film, dan mereka harus menulisnya secara sangat amat berhati-hati, secara gitu loh.., pada zaman itu, kertas masih mahal, dan gak sebanyak sekarang, jadi kalau kamu menulis, kemudian melakukan kesalahan.., waduh,.. dengan kata lain sebisa mungkin tidak boleh ada kesalahan. Tidak seperti zaman sekarang, banyak sekali fasilitas yang bisa digunakan, kertas banyak, kalau salah.. ya tinggal di hapus, ada alatnya, atau kalaupun nggak, paling langsung dibuang dan di ganti dengan kertas yang baru. Itu kalau nulisnya langsung di kertas. Kalau nulisnya di komputer atau laptop atau gadget lainya, lebih mudah lagi, berapa kalipun kita melakukan kesalahan dalam membuat tulisan, entah ribuan atau bahkan jutaan, kita bisa langsung memperbaikinya, menghapusnya, nggak pakai repot, dan nggak perlu lagi takut salah. 

Bayangkan, timpang banget kan perbedaanya...??, tinggal masalahnya hanya di MAU atau tidaknya menulis, willingness to write.., itu aja..!! ckckckckckk. Parah banget kan akuuu..., akuu, iya.., akuuu.
Aku ni sebenarnya merasa, beneran merasa nggak pandai menulis atau kurang pandai menulis lah.., tapi sebenarnya aku memiliki rasa suka untuk menulis. Pertanyaanya adalah menulis apa ?? sebagian besar aku lebih suka menulis tentang apapun, sesuatu yang aku anggap menarik untuk di tulis, fenomena, realita, sudut pandang, logika, emosi, tapi bukan berita bukan pula fiksi. Berita yang aku maksud adalah tulisan yang biasa di tulis oleh reporter itu loh,.. yang mengabarkan sesuatu “berita”, aku nggak begitu suka memberitakan, aku sukanya bercerita, tapi tentang realita, bukan fiksi. Apa aku nggak suka fiksi.. mmmm, nggak juga, aku suka, tapi masih dalam kadar biasa saja. menurut pendapatku, seorang penulis fiksi itu adalah seorang yang cerdas, sangat cerdas, daya imajinasinya begitu amat sangat tinggi, mampu berkelana ke ranah yang tak dapat menemukan batasanya. Tapi aku memang jarang membaca karya-karya fiksi, hanya beberapa seperti : alchemist, dan lainya.., bahkan untuk menyebutkanya saja aku lupa. Seperti alchemist, ceritanya menarik, banyak pelajaran didalamnya, tapi..., pada akhirnya setelah selesai membaca aku justru merasa hambar. Kenapa ?? ya nda tau...

Pelajaran hidup yang aku dapat dari cerita fiksi itu buat aku serasa kurang bermakna, meskipun kisah atau pelajaran hidup yang disampaikan oleh tokoh dalam cerita fiksi itu seringkali adalah fakta sejarah, ada, nyata, tapi kurang mengena. Aku lebih suka membaca karya nyata. Cerita tentang seseorang, tidak selalu biography, tetapi slice story yang ada pesan, pelajaran hidupnya, itu yang aku suka,.. yaa.. guwe mah gitu orangnya. Ketika temen-temenku hobi membaca karya yang sangat populer seperti harry potter, da aku mah.., nda tertarik sama sekali, meskipun tuh buku ada didepanku sampai 6 jilid (waktu itu), aku coba membaca, tapi baru beberapa lembar dan menyerah., entahlah..., mungkin karena aku belum tertarik kedalam alur cerita sehingga aku menyerah, atau mungkin memang ceritanya menurutku tidak menarik. I just think that, it wasted my time, haha,... sorry buat yang kebetulan hobi baca karya-karya itu, no offense.., it’s just about me..!

Aku ingin menulis banyak hal, sebagian besar cerita tentang aku sebenarnya, tapi nggak melulu tentang aku. Dalam dunia tulis menulis, aku masih kacau. EYD ku masih kacau. Aku masih suka-suka aja menaruh titik dan koma, belum teratur dan belum belajar aturanya, masih suka-suka.. hehhehe. Tapi sekali waktu aku pengen menulis tentang fiksi juga seh sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku membaca sebuah blog yang concern dalam dunia tulis menulis. Sangat menarik, ada banyak pelajaranya, tapi belum aku dalami juga.., alias masih angot-angotan membacanya, masih menunda-nunda.

Tapi sembari menulis ini aku paling tidak jadi cukup paham tentang hal apa yang aku senang dan ingin aku tulis. Yaitu tulisan yang bermanfaat bagi yang membacanya, terutama seh aku sendiri, walaupun aku yang menulis, tapi aku juga membaca kan ?? beranfaat tuh gimana ya ? dalam hal apa ?, kayaknya berat tuh, yaaa.., nggak mesti berisi hal-hal yang berat, bisa hal-hal yang ringan lebih bagus, sebuah tulisan yang bisa membuat yang membaca tersenyum juga termasuk bermanfaat menurutku,, jadi ini dia pakem tulisan yang ingin aku buat :

Gaya bahasanya harus simple, sederhana dan renyah, tapi cerdas (yaaa.., guwe banget lah), menarik untuk di baca, buat siapa ?? yaa, siapa aja yang merasa tertarik. Hehehe..
Ada message didalamnya
 Sifatnya sharing, berbagi, bukan mengajari
Punya ciri khas seorang abdur
Berupa cerita, tell story.
Ada sudut pandang didalamnya

Yaa, kurang lebih seperti itu lah..., kalau nanti berasa ada yang kurang dan aku temuin lagi, tinggal di tambahkan.  

Post a Comment

Popular posts from this blog

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah

Hari ini, rasanyaaa aku lagi deket banget sama kalimat ini, kalimat yang memberikan semangat untuk berusaha dan mengusahakan sebisa dan semampu apa yang bisa kita usahakan, dan selebihnya.., kita serahkan pada yang Maha Menentukan. 
Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah.., 
"Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."
Kalimat ini sejatinya, redaksinya adalah dari Al-Qur'an, surat Ali Imron ayat 159,  dengan versi lengkapnya ; 


Tawakkal itu bahasa sederhananya adalah menyerahkan hasil pada Allah setelah kita berusaha, sambil berharap apapun hasilnya semoga itu adalah yang terbaik. 
hari ini ada dua hati yang sama-sama sedang mengharapkan yang terbaik dari Rabb nya, satu hati telah membulatkan azzam (tekad) untuk melakukan apa yang dia rasa, dia telah melaksanakan tugasnya untuk menawarkan, menjemput, mengajak hati yang lain yang bisa jadi adalah benar pasanganya, dan selebihnya hanya tinggal mengamalkan Fatawakkal 'alallah,.
sementara hati…

One Step Ahead

Satu langkah di depan, apa itu makna satu langkah didepan ? mungkin kita bisa mengartikanya sebagai leader, winner, visioner which is itu antonym dari kata follower, commoner, “looser”. Dalam hal apa ? tentunya dalam banyak hal, apapun.
Lalu sebenarnya apa arti nilai penting dari “satu langkah didepan” ? apa segitu signifikanya nilai dari kata itu.., hmmm., jika dilihat sekilas tampaknya sangat sederhana dan gak penting-penting amat, apa coba yang membedakan dari hanya sekedar 1 langkah ? gak signifikan, betul !?? tapi saudara dalam kehidupan nyata, realita, terutama dalam konteks “persaingan” apapun, persaingan dalam rangka memenangkan sesuatu, sesuatu yang bernilai,.. you name it.., makna satu langkah di depan adalah Amat Teramat Sangat Begitu menentukan. Kemampuan dalam mengambil posisi  satu langkah didepan dapat menentukan nasib kita dalam konteks persaingan kedepanya, apakah kita akan menjadi winner atau looser, apakah kita akan menjadi leader atau follower. Kemampuan kita ber…

Pengen Nyantri (lagi)

Sewaktu aku kecil, kelas 3 sampai 6 SD, qodarullah aku "di buang" ke tegal, ke desa gunung tilu, tempat aku di lahirkan. Alasanya bukan hal yang sepele, meskipun waktu itu aku berpikir itu adalah hal yang sepele. Orang tua ku, terutama ibuku ingin aku bisa mengaji, bisa menjadi anak yang sholeh dan berbakti, bisa ngaji sederhananya mah. Bukan apa-apa sebenarnya semenjak aku berada di cirebon, utamanya kelas 1 sampai 3 SD, aku tidak jauh berbeda progressnya dengan temen-temen sebaya di sana, aku ikut ngaji di musholla yang biasanya di lakukan ba'da maghrib. Aku ikut juga madrasah kalau siang sepulang dari SD, tapi jika di bandingkan porsi aku main jauh lebih banyak. Dan urusan ngaji, aku yaitu tadi gak ada banyak progress, sebenernya aku waktu itu termasuk yang cepat tangkap, mudah faham, tapi mungkin lingkungan yang kurang mendukung.

Beberapa kali bapak dulu bilang, dan suka mengancam kalau nggak mau ngaji, nanti di gantung di wuwungan.. (bagian dalam atap rumah) atau ka…