Friday, January 23, 2015

Bentuk Bentuk Kesabaran (Ngaji 101)


Bentuk-Bentuk Kesabaran

Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:

1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.

2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.

3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran

Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah.

Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran, apa saja itu ? Di antaranya adalah :

1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.

2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.

3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.

4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.

5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.

6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.

7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya


Itulah seri sharing ngaji kali ini ya temanz... Smg bermanfaat, aamiin.. :)


Thursday, January 22, 2015

Aku Tidak Merokok, I'm Not Smoker.!


Aku tak merokok, hahahhAA... kok aku merasa statement ku itu kayak orang lagi "jual diri" yah ? Alias promosi,.. alias ngiklan, heheheh..

Well.., bukan itu maksudnya, itu hanya sebuah judul dan tema tulisan yang seperti biasanya hanya muncul tiba2, "pop up" aja di kepalaku dan kemudian aku tulis.

Jadi begini, .mengenai merokok, yaaa.. aku ini kebetulan adalah salah satu orang yang bisa di bilang masuk dalam kategori a rare kind of species, in a human world, hahaha.. apa pula maksudnya,..? Yaa, kurang lebih jenis manusia langka las,seperti itu. Langka dalam hal apa.. yaitu tak lain dan tak bukan dalam hal merokok. Di saat banyak sekali pemuda, orang tua, bahkan bocah2 dengan gayanya masing2 yang ketagihan dan kecanduan merokok dan menjadikan merokok sebagai bagian dari gaya hidupnya, aku justru dari dulu sampe sekarang gak merokok.

Pertanyaannya, apakah aku pernah merokok, jawabannya : pernah, beberapa kali dalam beberapa periode. Apa sebab ? Well penataan aja, penasaran kenapa aku kok gak bisa kecanduan merokok. Jadi bukanya aku merokok untuk gaya2an, ikut2an, atau pelarian dari masalah ketika stress, tapi justru penasaran untuk tahu sebenarnya merokok itu enaknya di bagian apa nya seh ? Kok aku nggak bisa merasakan bagian enaknya, nggak kayak orang lain. Trus aku penasaran mungkin gak seh atau bisa nggak aku ketagihan merokok, karena katanya kan kalo orang perokok itu salah satu sebab awalnya adalah karena coba2 dan kemudian ketagihan, lhaaa.. aku kok malah gak pernah ketagihan. Dung dung...

Trus, ya begitu... aku nggak merokok dan nggak pernah berniat berubah menjadi "ahli hisap" alias pecandu rokok, Insya Allah. Banyak temanku yang merokok, yang cowok loh yaaa...,  bukan sekarang ini aja, tapi dulu, jamanya smp juga ada, tapi... aku gak pernah tuh kemudian ikut2an karena  merasa nggak enak, well... secara dalam hal itu aku bisa memuji diri sendiri heheh.. bukan maksud jumawa yaak, tapi benar, dalam hal kaitannya nggak enakan sama temen, saat kita bergaul, saat kita berteman, .. aku tetap memilih memegang prinsip sendiri. Aku nggak akan ikut2an untu melakukan hal2 yang menurutku tidak baik atau tidak cocok buat aku dan atau bertentangan dengan hal2 yang aku yakini kebenaranya, sikapku adalah nafsi2.., silahkan do what you think you right, you like it, at least for a while. I will not offend you.. and I will do what I think right for me, from the the principles and value of what I believe, and I don't care what other said, as long as I'm sure that I don't harm them..

Kepanjangan yaa, hahaha..
Jadi, yaa intinya aku dari duku sudah terbiasa untuk bisa memegang prinsip sendiri dan tidak mudah untuk ikut2an orang lain ketika mereka melakukan apa dan menggemari apa. Terserah meraka dan aku yaaa... tetep biasa aja.
Jadi ketika kebanyakan temanku pada merokok, aku ya tetep biasa aja, nggak merokok.

Latar belakangnya sebenarnya banyak, kebetulan dikeluargaku utama nya keluarga inti mereka tak merokok, bapakku tak merokok, paman ku juga tak, ada sehh.. paman dari pihak ibu. Adikku tak merokok, ibuku apalagi heheheh...
Kemudian, keyakinan yang aku pegang bahwa rokok itu haram, tidak sehat dan tidak menyehatkan, bahkan sebaliknya lebih banyak mudharatnya.. Jadi aku memilih untuk tidak menjadi perokok.
Well... begitukah kira2 ceritaku dengan apa yang disebut makhluk bernama rokok.

FYI : aku tak membenci perokok, yang aku ndak suka adalah ketika mereka kebebasan merokoknya berlebihan, tak tahu tempat dan tak bisa menghargai orang lain yang tak merokok. Itu kelakuan yang tak aku suka. Itu seh umumnya lah yaaak... :)

Oke, thats me, that's who I am , I'm Abdurrohman and i'm not Smoker.! :)

Monday, January 19, 2015

Doyan Ngopi

Kopi oh kopi,... edisi lebay...

Entah sejak kapan aku suka ngopi, kalau nda salah seh sejak aku kuliah, sejak aku masih ngekost di depok. Tapi sebelum itu tadinya aku sukanya nge-teh alias minum teh, yah manis yak, bukan teh pahit, alias tehnya itu di kasih gula, awas gula pasir bukan gula merah atau gula jawa.. heheheh..., trus abis ntar sebab apa jadinya aku suka ngopi, bukan berarti teh nya jadi nggak suka juga, teteup masih suka, dan bukan berarti aku penggemar kopi juga, hanya sekadar suka.

Bedanya apa ? Kalo penggemar kan katanya seh bisa membedakan rasa kopi, kalo aku kayaknya nggak bisa deh atau belum bisa. Buat aku atau paling gak yang aku rasain neh ya... Kopi itu rasanya semuanya ya sama pahit, dan aku gak suka yang pahit, aku sukanya yang manis-manis, termasuk akhwat, aku sukanya akhwat yang manis, asseeeek... ngelantur,! #tepuk jidat.

Nah berhubung aku sukanya yang manis maka kopi pun aku sukanya kopi yang manis, karena manis maka konsekuensinya buat aku masih tetap sama aja, semua kopi ya rasanya manis, heheheh....
Selain itu aku gak suka yang aneh2, kebanyakan aku suka minum tuh kopi yang sachet, yang beredar di pasaran, yang beredar di warung-warung. Aku gak terlalu peduli merek apa, keluaran siapa, selama pas dicicip, di sruput berasa enak di lidah ya wis aku beli, aku sedu, aku tenggak, heheheh ....

Dulu, aku nggak begitu suka kopi original, yaaa... itu yang di sedu hanya antara kopi, air dan gula saja, tapi belakangan aku justru lebih banyak mengonsumsi yang original. Tadinya lebih banyak minum tuh yaaa.. yang itu tadi, sachet, rasa kegemaran ku adalah rasa mocca, trus susu mix trus kalo sekarang2 white cofffee... tapi biasanya gak murni, biasanya aku campur antara mocca, susu, white coffee atau diantaranya lah, FYI aja yak, porsi aku minum kopi dari dulu sampe sekarang itu gak berubah, selalu porsi jumbo, pake gelasnya aja gelas jumbo yang isinya itu muat untuk 3 sachet, jarang banget deh aku nginum kopi hanya di gelas kecil, 1 sachet, kecuali : lagi bertamu, ikut acara2 seminar atau formal, dan terakhir kepepet, terpaksa karena kantong lagi bokek... heeeeeeee...

Kapan aku ngopi ? Nggak tentu waktu, kapan aja, dimana aja aku pengen ngopi ya ngopi, berapa banyak sehari ? Nggak tentu juga, bisa cuma 1 kali, bisa juga ber-kali2, suka2 aja, tapi aku bukan termasuk yang ketagihan loh yaa... kayak misalnya Gmn kalo 1 hari aja aku gak ngopi trus jadi resah, gelisah, dan berasa kemarau panjang #lebaylagi.
Intinya kapan aja suka, kaya sekrang ini, lagi hujan gede, memandang kebunku yang hijau, sambil menulis ini dan mendengarkan musik rock classic, aku di temani secangkir kopi hangat original plus pisang rebus , hweheheheheh.. maknyus,.

Itulah ceritain tentang satu sisi dunia, dunia ngopi. Selamat beraktifitas. :)

Wednesday, January 14, 2015

Landasan, Kerangka dan Tujuan Hidup


                         LANDASAN & KERANGKA Hidupku adalah : Ibadah dan Dakwah

                                TUJUAN Akhir Hidupku adalah : Mardhotillah (Keredhaan Allah)

                                               Sebagai Pengingat..
                                                       Semoga selalu ingat dan tidak lupa. Aamiin :)

Saturday, January 03, 2015

Seri Mindset Bisnis (2) : Fokus Pelanggan, You Win I Win

Suatu ketika ada pembeli yang komplain, menelpon melaporkan barang yang dia beli ternyata sobek. Sobekannya cukup besar, sehingga kemungkinan sangat kecil sekali barang yang dibeli sobek sebelum dikirim.

Di Raihanshop, semua produk sebelum dipaket dan dikirimkan, akan melalui proses QC dimana setiap pakaian dikeluarkan dari plastik,dibuka dan di cek setiap jahitannya. Ada kemungkinan produk sobek bisa lewat, namun untuk sobek yang cukup besar kemungkinan terlewat nya sangat kecil.
Pembelinya marah marah dan meminta dituker, saya meminta dengan sabar pegawai Raihan menanggapi permintaannya untuk segera mengganti dengan barang yang baru, plus dengan ongkos kirim bolak balik. Dan meminta maaf atas kejadian ini.
Sebenarnya ada 3 alternatif yang bisa dilakukan ketika peristiwa seperti ini terjadi bagi para pemilik toko Online:

Pertama, kita menyelidiki bahwa itu memang salah pembeli, lalu menyalahkannya dan tidak membolehkan untuk dikembalikan. Pada akhirnya pembeli pasti akan mengalah dan mengirim balik produk yang sobek tadi, dan pastinya juga dia akan kapok untuk berbelanja kembali.
Kedua, kita bisa mengganti saja produknya tapi meminta ongkos kirim ditanggung oleh pembeli, ini seperti yang dilakukan oleh banyak toko Online. Pembeli akan lega bisa mengembalikan barang "rusak", namun masih meninggalkan "rasa pahit" karena barang sobek di benak pembeli.
Ketiga, tidak peduli siapa yang salah,minta maaflah terlebih dahulu dilengkapi dengan senyuman, Berikan dia pelayanan yang lebih baik ditambah bebas ongkos kirim. Disaat dia seharusnya merasa bersalah karena mgkn itu kesalahannya, dia justru menjadi bahagia dan bersyukur. Bagaimana menurut anda?

Inilah yang dinamakan SERVICE RECOVERY. Ingatlah selalu, bahwa kesalahan pasti terjadi dalam bisnis, bagaimana kita melakukan recovery? Apakah mau hitung2an dengan pembeli, atau justru dapat banyak order lagi dari pembeli?
Beberapa yang membaca ini mungkin tidak setuju dengan strategy ini, karena bisa saja ada orang yang taka it for granted, atau Bahasa lainnya "Mengambil kesempatan dalam kesempitan"? Jawabannya adalah mungkin akan ada 1 atau 2 orang yang akan melakukannya. Tapi saya yakin bahwa bahi perusahaan yang sungguh mengutamakan service, mereka akan mencari cari alasan agar bisa men service pembeli lebih baik. Maka bersyukurlah ketika pembeli punya masalah, karena ini adalah peluang bagi kita sebagai penjual untuk membantu.
Zappos ini contoh perusahaan "aneh", sebagai perusahaan yang memfokuskan pada service, Bila tamu memesan dengan pengiriman yang reguler,mereka suka sengaja meng up grade ke pengirimannyang lebih cepat. Hasilnya tentu saja menakjubkan. Kita tidak akan mengatakan bahwa Zappos akan merugi atas yang dilakukannya, tidak melainkan mereka dapat menghemat biaya iklan atau promo yang biasanya besar, dengan mengalokasikannya pada up grade pelayanan seperti ini yang relarif lebih murah.
Bahkan konon ketika ada yang memesan sepatu dan masih bingung sepatu mana yang diinginkan, pesannsaja semuanya dulu, nanti pembeli bisa mencobanya di rumah, mencari mana yang cocok, mencocokkan dengan pakaian yang ada di lemari. Bila sudah menemukan yang cocok silahkan dipakai, Sedangkan untuk yang tidak cocok, boleh dikembalikan dan ongkos kirim akan ditanggung bolak balik oleh zappos. Keren deh pokoknya.:-)
Tapi yang lebih keren lagi, jika membeli sepatu di toko biasa, kita bisa retur mungkin seminggu kemudian batasannya, berbeda dengan zappos yang boleh retur maksimal setahun. Setiap pembeli memiliki waktu 365 hari untuk mencoba sepatu sebelum mengembalikannya, dan yang menarik jika pemesanan dilakukan tanggal 29 februari, maka pembeli punya waktu empat tahun untuk mengembalikannya. Aghh.. Sebentar lagi februari nih :-)
Mungkin akan ada orang yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan ini, tapi saya meyakini bahwa ketika perusahaan kita sebagai penjual telah berbuat sebegitu baik untuk pembeli, maka mereka tidak akan tega bahkan akan jatuh cinta.!
Yuk Fokus pada pelanggan. You Win, I Win.
Selamat berbisnis,
Share JOS
Bang Fitra Jaya Saleh.

Friday, January 02, 2015

What would I do ?

If today is the last day of my life, what would I do ? What good things would I do ?
Itu adalah pertanyaan penting yang aku lontarkan saat ini, sebuah pertanyaan kontemplasi untuk berpikir, sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah tidak asing tetapi.. dan sekali lagi tetapi .. hangat jarang aku lontarkan kepada diriku sendiri saat di pagi hari hendak memulai aktifitas.
PADAHAL itu adalah pertanyaan super sakral, super penting yg harus dilontarkan  setiap hari, bahkan setiap saat dalam rangka menjadikan waktu yang akan kita lewati diisi dengan aktifitas yang bernilai tinggi, bernilai berlian, tidak terbuang begitu saja, tidak menjadi sia-sia, tidak menjadi SAMPAH.! 

Lalu.., apa yang akan aku lakukan ?
Aku akan membuat rencana aktifitas terbaik hari itu, membuat daftarnya, membuat prioritasnya, dari yang pokok (wajib) sampai yang tak wajib, dari yang Must to do sampai ke Need to do.
Kemudian aku akan melakukanya dengan the best efforts I can do, the best efforts as if I dont have time left anymore, as if in the end of the day I will be punished death. I will do every little thing with high spirit, ketulusan, ke ikhlas-an, happy dan Big Smile.
Sounds bull ? Nope... I don't think zoooo... :)
Well...that's me.. How about u fellas... ??


Salam Dunia Abdurrohman

Tentang Resolusi, Tentang Mati

Ini adalah hari kedua di tahun 2015, dan saya masih mau menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan apa yang kita sebut sebagai resolusi, yaa.. tentang hal-hal yang ingin kita capai, kita raih, kita rencanakan kedepannya di tahun ini. Tentunya semuanya mengarah pada hal yang kita harapkan akan dapat membuat hidup kita jadi lebih baik. Tulisan ini saya comot dari share nya salah satu brother JOS, mas beo gibran,..

Agak lebih panjang dari biasanya, mudah-mudahan ada isinya.

Judulnya : MATI UNTUK HIDUP

Biasanya di awal tahun seperti ini saya sibuk menulis catatan resolusi yang panjang dan asal-asalan. Tujuannya supaya bisa dipajang di tembok atau layar handphone. Atau sekadar penenang diri kalau saya punya target hidup untuk satu tahun ke depan, walaupun nyatanya sebatas formalitas. Entah karena alam bawah sadar saya sudah bosan ditipu target yang tidak sekeras itu diusahakan tercapai, atau hanya karena belum mood, saya belum menulis resolusi barang sebiji. Entah kenapa.

Yang saya pikirkan sejak kemarin, justru sekelebat bayangan kakek saya, saudara sebaya saya, teman lama saya, dan secarik kertas yang ditulis ayah saya dan ditempel di depan pintu kamar dulu di masa saya SD dan SMP. Ketiga hal ini dihubungkan oleh satu hal, suatu fenomena universal yang diyakini secara absolut oleh semua orang: mati. Ini hal yang jarang-jarang, tetapi beberapa hari ini saya dibayangi oleh pikiran tentang kematian. Entah dari mana.
Memikirkan tentang mati, di saat saya sedang berpikir tentang resolusi tahun 2015 rasanya sangatlah aneh, tidak seperti biasanya. Setiap menulis poin target tahun ini, tangan saya bergetar, karena dihadapkan dengan pertanyaan: jika ini adalah tahun terakhir saya, benarkah ini yang ingin saya lakukan dan capai? Beberapa kali saya hapus target yang sudah ditulis, karena hilang nilainya dihadapan pertanyaan tentang kematian.

Contohnya, saat saya menulis “Membeli Mobil” sebagai target tahun ini. Karena saya merasa sering bolak-balik keluar kota dan terhambat hujan di perjalanan, memiliki mobil nampaknya jadi pilihan yang berguna dan rasional. Setelah menulis target ini, saya dihadapi pertanyaan tadi, hingga saya berpikir: jika di tahun ini saya mati, benarkah sebuah kendaraan yang tidak akan saya bawa di makam, menjadi target yang layak saya kejar? Saya terdiam diri oleh pertanyaan yang saya lontarkan sendiri. Lalu saya menghapusnya dan mengganti dengan hal lain yang lebih bermakna daripada benda. Ini terjadi di setiap poin yang saya coba tulis. Di satu titik, saya tersadar bahwa resolusi yang saya targetkan kini benar-benar penuh daya, hanya karena saya mengingat mati sebelum menuliskannya. Alih-alih melanjutkan menuliskan tentang resolusi, sekarang saya justru berkontemplasi tentang mati sebagai kesatuan konsep yang berguna dalam hidup.

Kematian adalah sebuah konsep intelektual. Dalam sebuah pidato kelulusan di Stanford, Steve Jobs pernah menyampaikan hal yang sama persis dengan ini. Dia juga menyampaikan, bahwa mengingat kematian adalah alat terbaik untuk membantunya menentukan pilihan besar di kehidupan. Setiap harinya selama puluhan tahun, ia selalu bertanya ke cermin, “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do now?”.

Kematian, sebagai sebuah konsep berpikir, akan mampu mencerabut segala hal yang menahan kita saat hidup: kegagalan, kebanggaan, ekspektasi, harta. Kita akan sadar bahwa, dalam hidup, kita tidak akan kehilangan apa-apa, karena saat mati kita tidak akan membawa apa-apa. Yang tersisa di dunia hanyalah apa yang akan kita tinggalkan, dan setiap individu pasti hanya ingin meninggalkan kebaikan. Kematian mampu membantu kita memilah aktivitas apa yang akan kita tinggal, hingga kelak menyisakan residu kebermanfaatan. Kematian mampu menghantam segala ketakutan akan resiko kegagalan, dan kebanggaan berlebih akan pencapaian semu. Kematian mampu memperlihatkan kita tentang mana yang makna, dan mana yang fana. Maka, tidak ada lagi alasan kita untuk tidak mengikuti kata hati, dan mengejar hal-hal yang paling bernilai melebihi diri dan materi. Kematian mengajarkan kita untuk melakukan hal yang terbaik dalam hidup, dalam setiap peluang yang ada.

Kematian adalah sebuah konsep emosional. Sebagai contoh, adalah salah satu bagian favorit saya yang ditulis Viktor Frankl di bukunya Man’s Search for Meaning. Dalam salah satu momen di tahanan kamp konsentrasi Nazi, saat para tahanan digiring di tengah kegelapan, di atas bebatuan, di angin yang beku, dan di hadapan wajah kematian, salah seorang dari mereka tetiba berbicara tentang istrinya. Hal ini memicu para tahanan lain untuk tersenyap, memikirkan tentang istri mereka masing-masing. Mang Viktor pun demikian. Ia terkenang wajah istrinya yang hangat, senyumnya yang manis, dan tatapannya yang lembut. Hatinya sekejap teriris, tapi juga tenang. Di hadapan mati, bukan siapa pejabat yang kita kenal yang nanti akan kita ingat, tapi siapa yang kita cinta dan mencintai kita.

Kematian menjadikan kita makhluk penuh haru, hingga mudah merasakan hal ini: jika hari ini kita mati, cukupkah kata cinta terucap untuk pasangan kita? Cukupkah bakti terurai untuk ayah ibu kita? Cukupkah pelajaran teralir untuk anak dan adik kita? Cukupkah hangat terbagi untuk sahabat kita? Bukan sekumpulan kartu nama yang kini jadi ada arti jika dikaitkan dengan mati, tetapi hubungan emosi. Maka, dalam getar, tak akan tega kita sedikitpun mengucap hal kasar kepada orang-orang yang kita sayangi dengan besar. Dan dihadapan mati, kata maaf dan kasih menjadi murah dan penuh arti. Di hadapan mati, hubungan manusia tidak hanya sekadar transaksi, tapi tentang siapa-siapa yang kelak akan kita tangisi. Kita akan membangun diri untuk menjadi orang yang kehadirannya disyukuri. Jika sebagai konsep intelektual kematian menjadikan kita bijak, maka, sebagai sebuah konsep emosional, mati menjadikan kita berbudi dan hangat.

Kematian adalah sebuah konsep spritual. Ini adalah hal yang paling mendalam. Jika kedua konsep tadi hanya membawa kita di dunia, kematian dalam konsep spiritual akan membuat kita berpikir tentang dampak terhadap kehidupan setelahnya. Kematian akan memecut ingatan kita tentang hadits Bukhari ini: “...karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanyalah amal perbuatan dan tidak ada hitungan. Dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan dan tidak ada amal.”

Kematian menjadi titik akhir kita hidup di dunia, sebagai satu-satunya garis waktu yang berisi kesempatan kita mengisinya dengan amalan yang kelak akan kita bawa. Maka, menghubungkan diri dengan kematian, akan dengan mudah mencetuskan kita akan pertanyaan: jika di menit ini kita mati, cukupkah kelak amalan ini menyelamatkan kita nanti? Atau justru kita akan menangisi banyaknya dosa dan lalai yang kita kerjakan? Mengingat mati yang beriring iman, adalah salah satu metode paling efektif untuk kita bisa benar-benar mengoptimalisasi setiap detik dan aktivitas menjadi ibadah yang memiliki nilai. Kematian menjadi pengingat, layaknya secarik kertas milik ayah saya yang ditempel di depan pintu dulu: “Alangkah banyaknya kuhabiskan waktu pagi dan petang untuk perbuatan tak berarti, sedang pada saat itu, kain kafanku sedang ditenun tanpa kusadari”.

Sebagai sebuah kesatuan konsep, dari sudut pandang manapun, kematian memang sangat berguna. Terlebih lagi, menjelaskan satu fakta tak terelakkan bahwa hidup adalah sebuah batas. Maka, secara intelektual, emosional, maupun spiritual, mengingat kematian mau tidak mau mendorong kita untuk menembus batasan itu. Bukan untuk bisa hidup selama-lamanya, tetapi untuk bisa membuat sesuatu yang akan bertahan selama-lamanya. Di resolusi tahun 2015 ini, mungkin kita bisa menggoreskan “ingat mati” sebagai salah satu target kita setiap hari. Karena, dengan mengingat mati, kita bisa benar-benar hidup.

Salam sayang,
Aa Ganteng | @gibranwow
cybreed.co.id | efishery.com

Thursday, January 01, 2015

Seri Mindset Bisnis : The Power of Context



Ada seorang teman saya yang pekerjaannya memproduksi Jilbab, yang menariknya adalah dalam sebulan, meski hanya jualan jilbab perolehan omset nya bisa mencapai 2Milyar sebulan. Saya tertarik untuk mencari tahu apa rahasianya...

Rupanya sangat sederhana cara bisnisnya, konon katanya dalam dunia Hijab, perputaran model fashion terjadi begitu cepat dan faktor yang men drive perubahan adalah model Jilbab yang dipakai oleh artis2 di sinetron televisi. Ketika sedang musim sinetron Catatan Hati seorang Istri, jilbab yang dipakai oleh artis dewi sandra laku keras, teman saya ini tinggal meniru model jilbab nya dan memberi nama JILBAB HANA.
Ketika sudah selesai masa jilbab hana, muncul lagi jilbab model lain berikutnya yang dipakai oleh artis lain di sinetron lain pula. Terkadang masalah yang dihadapinya ketika ada keterlambatan produksi dimana jilbab yang baru jadi produksi sudah kelewatah moment karena sudah ada model artis baru. Agghh.. Begitulah dunia wanita

Ada riset menarik yang dilakukan di Berkeley. Di asrama mahasiswa setiap gedung setiap lantai selalu ada kulkas yang bisa dipakai oleh semua mahasiswa, kulkas umum.
Periset menaruh 12 kaleng bir di beberapa kulkas. Ternyata dalam waktu 2 hari, hampir semua bir itu hilang habis diambil mahasiswa. Mereka mengambil bir yang bukan miliknya, dan tidak tau milik siapa. Di semua lokasi hampir selalu ludes habis.
Di kulkas yang sama, pada waktu yang berbeda, ditaruh uang kecil2, 1 dan 5 dollar-an, sejumlah 20 sampai 30 USD. Dilipat dijepit bibawah makanan atau barang tapi tetap terlihat, seolah2 milik orang yang ditaruh disana. Dibiarkan dalam 2 hari, ternyata uang itu tidak di”curi” mahasiswa dan tetap ada disana.
Hal ini menarik, karena mengambil satu kaleng bir, nilainya sama dengan 1 atau 2 dollar, tetapi mahasiswa merasa “normal2 saja” mengambil bir, tetapi tidak kalau mengambil uang. Mengambil uang adalah mencuri, mengambil bir adalah berbagi rejeki.
The power of context. Sesuatu yang sama akan “terasa” berbeda bila berada dalam bentuk yang lain.
Ada lagi riset tentang tiket dan uang. Kalau anda punya uang 500.000 rupiah, mau pergi menonton bioskop malam itu, ternyata dijalan uang anda jatuh hilang 50.000 rupiah, sehingga sisa 450.000, apakah anda akan tetap menonton malam itu? 95 persen bilang akan tetap menonton.
Sebaiknya kalau paginya anda telah beli tiket 50.000 rupiah, disaku anda masih ada 450.000 rupiah, dan sorenya tiket itu hilang, apakah tetap akan beli tiket lagi malam itu dan menonton? Nah ternyata 50% lebih orang akan membatalkan dan tidak jadi menonton. Padahal dalam kedua hal itu yang hilang adalah “sama”.
Dalam kehidupan bisnis, mencuri uang perusahaan dan korupsi sangat dianggap “hina”, tetapi datang terlambat kekantor (korupsi waktu), menaikkan laporan beaya perjalanan (mencuri uang), dianggap sangat lumrah dan biasa.
Hal ini juga dipakai untuk menjelaskan kejahatan kerah putih, dimana kalau sekedar merubah data perusahaan, kan tidak se “hina” mencopet atau mencuri atau merampok uang perusahaan?
The power of context. Memahami bahwa sesuatu hal akan menjadi lain kalau dikemas dan ditaruh dalam perspektip yang berbeda. Ini berguna untuk komunikasi, hubungan bisnis dan kehidupan sosial.
Selamat mencoba
Sharing JOS
Bang Fitra Jaya Saleh